Saya dan Belanda

Bagian 1: Saya dan LPDP

1

Gambar 1. Tas Punggung Pemberian LPDP Ketika PK-24 (Mahasura Khatulistiwa). Sumber: Dokumentasi Pribadi (Muh. Akbar Bahar)

Perkenalkan, nama saya Muzakki Bashori, salah satu awardee beasiswa S2 LPDP, Kementerian Keuangan, Republik Indonesia. Adalah suatu anugerah saya akhirnya bisa memperoleh beasiswa keren ini pada kesempatan kedua, setelah pernah tidak lolos seleksi administrasi pada kesempatan pertama. Dan, untuk mendapatkan beasiswa ini, saya juga harus rela menginap dua malam di kantor polisi ketika masa-masa seleksi interview dan LGD (Leaderless Group Discussion) di Jakarta. Saya sudah was-was sendiri pada waktu itu kalau-kalau saya akan disuruh tidur di balik jeruji besi. Apa salah saya coba? Untunglah Bapak-bapak polisi di Polsek Sawah Besar cukup berbaik hati dengan mengizinkan saya menempati sebuah mushalla kecil yang ada di bagian ujung paling belakang kantor. Mungkin mereka merasa kasihan begitu melihat tampang kucel bin ngenes saya yang pada waktu itu baru sampai di Jakarta tengah malam. Sebenarnya saya sudah mempunyai niatan dari rumah untuk menginap di masjid dekat Kementerian Keuangan, tapi apa daya, masjid senang direnovasi! Tak apalah. Dalam kondisi tersebut saya malah bisa lebih prihatin dan lumayan juga bisa ngirit pengeluaran karena seleksi beasiswa dilaksanakan selama 2 hari berturut-turut.

Awal mendaftar beasiswa LPDP saya sudah memantapkan pilihan untuk melanjutkan studi S2 di UGM (Universitas Gadjah Mada). Saya tertarik dengan salah satu jurusan yang ada di sana. Namun, takdir berkata lain. Saya tidak pernah tahu apa yang dipikirkan oleh 3 pewawancara beasiswa kala itu, hingga akhirnya saya direkomendasikan oleh mereka untuk pindah universitas tujuan belajar ke luar negeri. Dan, Belanda akhirnya menjadi negara pilihan saya untuk menimba ilmu. Berulang kali ditolak oleh Radboud University Nijmegen (jurusan awal yang saya inginkan ada di sana), tidak di-rewes (baca: digubris) oleh Leiden University (ya iyalah, secara kagak bayar registration fee!), saya pun beralih ke University of Groningen yang ndilalah (baca: tanpa disangka-sangka) mempunyai jurusan yang jauh lebih sesuai dengan background saya sebagai guru Bahasa Inggris (baca: sekalian promosi jurusan Applied Linguistics-TEFL). Saya bersyukur sekali karena Allah memberikan kemudahan di setiap titian langkah yang harus saya tempuh. Dan, sekalipun terkadang titian (baca: please, bukan artis Putri Titian!) itu terasa sulit, Allah selalu menyiapkan jalan keluar selama saya berusaha dengan sungguh-sungguh. Fa inna ma’al ‘usri yusran. Inna ma’al ‘usri yusran. Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Bagian 2: Saya dan TOEFL Yang Pas-pasan

2

Gambar 2. Di Depan Academy Building (Academiegebouw), University of Groningen. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saya adalah salah satu mahasiswa University of Groningen yang sangat beruntung karena lolos seleksi masuk universitas dengan skor TOEFL di bawah ketentuan (padahal sebenarnya jurusan saya tidak menerima TOEFL ITP), terlebih masa berlaku hasil TOEFL saya tersebut sudah berlalu, alias kadaluarsa! Jurusan saya, Applied Linguistics – Teaching English as a Foreign Language (TEFL), mensyaratkan IELTS minimal 7 dengan minimal skor 6.5 untuk masing-masing band. Berhubung pada saat itu persyaratan bahasa belum bisa saya penuhi (skor TOEFL saya hanya 557), jurusan yang saya inginkan tersebut hanya bisa memberikan Conditional Offer. Mereka meminta saya untuk mengambil tes IELTS terlebih dahulu dan segera menyerahkan hasil tesnya kemudian. Mengingat durasi waktu untuk mencari LoA yang sangat terbatas (baca: sebagai awardee beasiswa LPDP, kami diberikan tenggang waktu selama kurang lebih 1 tahun untuk mengusahakan LoA dari universitas tujuan belajar), saya pun memberanikan diri untuk melakukan pendekatan kepada program coordinator melalui surel (surat elektronik atau e-mail). Saya menjelaskan keinginan kuat saya untuk melanjutkan kuliah di Belanda, dan juga bahwa saya telah memiliki sponsor resmi berupa beasiswa penuh dari LPDP, Kementerian Keuangan, Republik Indonesia. Tidak jatuh, tidak jua tertimpa tangga. Persyaratan bahasa tersebut bisa di-waive, dan saya diberikan satu kesempatan emas untuk mengikuti seleksi tambahan dari jurusan. Seleksi tersebut terdiri atas dua tahap; (1) meringkas salah satu chapter dari sebuah buku dalam kurun waktu 1-2 hari, dan (2) wawancara via skype dengan program coordinator. Setelah itu, dalam waktu kurang dari satu pekan, sebuah surel masuk ke alamat e-mail saya yang isinya mengabarkan bahwa saya diterima di University of Groningen tanpa syarat (Unconditional Offer). Alhamdulillaahirabbil’aalamiin. Lalu, apakah saya akhirnya mengambil tes IELTS? Walaupun jurusan saya sudah tidak lagi membutuhkannya, saya tetap mendaftar untuk mengikuti tes IELTS di Semarang. Tidak murah memang, bahkan saya harus sampai berhutang kepada salah satu rekan saya karena tabungan saya belum mencukupi dan kondisi finansial keluarga yang sedang kurang baik. Tes IELTS ini saya jadikan sebagai sarana upgrade kemampuan bahasa Inggris saya kalau-kalau sekiranya nanti hasil tes tersebut ternyata masih diperlukan untuk keperluan administrasi di kampus. Buat jaga-jaga saja. Lebih baik mencegah daripada tidak mencegah, kan?

Bagian 3: Saya dan Toko Pakaian

3

Gambar 3. Toko Pakaian Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sumber: Dokumentasi Pribadi

‘Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?’

‘Oh, saya sedang mencari sweater dan jaket,’

‘Untuk anda?’

‘Iya,’

‘Maaf, tapi ini area pakaian untuk anak-anak.’

‘…….’

Bagi kalian wahai para cowok dengan tinggi badan di bawah 160 centimeter (baca: seperti saya), siapkan perasaan kalian agar tidak mudah merasa humiliated di Belanda. Bagaimanalah. Orang Belanda adalah orang paling tinggi di dunia. Rerata tinggi laki-laki mereka mencapai 184 centimeter, dan perempuan 170 centimeter (dikutip dari Handbook for International Students, Faculty of Arts, University of Groningen 2015/2016). Namun, bersyukur sajalah karena bukankah Tuhan lebih melihat hati, bukan tinggi badan?

Bagian 4: Saya dan Nasi

4

Gambar 4. Nasi Goreng Ala Kadarnya (Baca: Ala Anak Kos). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saya tinggal bersama salah satu keluarga Indonesia yang ada di Groningen. Sang suami sedang menempuh S3 di University of Groningen, sedangkan sang istri adalah seorang ibu rumah tangga yang nyambi menyediakan jasa catering. Mereka memiliki dua anak yang sangat aktif dan cerdas. Untung dapat diraih, malang dapat ditolak. Saya mendapat jatah nasi gratis setiap hari dari mereka. Tinggal masak lauknya saja. Hore! Sebagai cowok tropis tulen dari Indonesia, saya sempat membayangkan bagaimana saya nanti bisa survive di Belanda kalau tidak ada nasi! Karena seperti yang telah kita ketahui bersama, orang Indonesia mempunyai semboyan tidak tertulis berupa, ‘Kalau belum makan nasi berarti belum makan.

Bagian 5: Saya dan Mosi ‘Jangan Menggombal’

5

Gambar 5. Bersama Para Mahasiswa Jurusan Applied Linguistics – TEFL 2015/2016. Sumber: Dokumentasi Jurusan

Saya tidak menyarankan para jomblo (apalagi yang tidak jomblo!) untuk ‘menggombali’ para mahasiswa/i Belanda ala-ala, ‘Ayah kamu tukang sate, ya? Kok tahu? Karena kamu telah menusuk-nusuk hatiku…’ Alih-alih membuat si dia terpesona, yang mungkin bakalan terjadi adalah terucapnya dua judul lagu Justin Bieber.

‘Sorry,’

‘What do you mean?’

Daripada menghabiskan waktu untuk gombal-menggombal, mending #MenjadiJombloMulia atau #JombloSampaiHalal. Insya Allah lebih berkah dunia akhirat. Aamiin.

Bagian 6: Saya dan Sepeda Yang Hilang

6

Gambar 6. Lokasi Hilangnya Sepeda di Kawasan Planetenlaan, Groningen. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Jum’at, 18 Maret 2016. Saya bersiap-siap hendak pergi salat Jum’at di salah satu masjid yang ada di Groningen. Jaraknya kurang lebih 600 meter dari flat dimana saya tinggal. Ketika saya akan mengambil sepeda di tempat parkir flat, betapa terkejutnya saya karena sepeda saya sudah tidak ada di sana. Raib tak berbekas. Padahal saya yakin 100% kalau saya sudah mengunci sepeda tersebut, mengingat saya mempunyai kecenderungan untuk ‘mengulangi’ sesuatu beberapa kali, seperti mematikan kompor, mencuci tangan, mengunci pintu, dan lain sebagainya. Salah satu teman Belanda saya, Anna, lalu memberikan komentarnya begitu saya update status di facebook tentang hilangnya sepeda saya; ‘Welcome to the Netherlands!’ Kalau orang Belanda saja sudah haqqul yaqin dengan maraknya ‘budaya’ ini, masihkah kita ragu untuk memasang gembok-ganda di sepeda kita? Untungnya cuma sepeda yang dicuri, bukan hati. Bisa berabe, kan?

Bagian 7: Saya dan Syar’i (?)

7

Gambar 7. Salah Satu Cuplikan Adegan di Film Ketika Mas Gagah Pergi (2016). Sumber: www.youtube.com

Waini. Sebagai Muslim, tidak mudah memang mempertahankan ‘prinsip’ saya (kami) di negara-negara Eropa semacam Belanda. Minuman ber-alkohol ada dimana-mana. Pergaulan bebas merajalela, bahkan lokalisasi saja dilegalkan. Belum lagi sifat permisif mereka terhadap hubungan sesama jenis. Makanan (daging) halal hanya tersedia di toko-toko tertentu. Salah satu yang membuat saya tercengang dari salah satu toko halal yang ada di Groningen adalah mereka pernah menjual ‘bir tanpa alkohol’. Minuman macam apa pula ini? Belum lagi apabila kita mempunyai prinsip untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Bagi perempuan berjilbab panjang mungkin malah akan lebih mudah menjaga prinsip yang satu ini karena bule-bule itu bakal segan kepada mereka. Namun, bagi saya, ikhwan abal-abal yang baca Al-Qur’an saja masih terbata-bata, memperjuangkan prinsip yang satu ini teramat syusyaaah. Satu dari sekian awkward moment adalah ketika ada teman (bule dan non-bule) yang mengajak jabat-tangan atau high-five, saya hanya bisa menangkupkan tangan dan menimpalinya dengan penjelasan ‘ala kadarnya’. Satu awkward moment yang lain adalah ketika seorang teman melakukan presentasi, dan tetiba ia memunculkan gambar perempuan berbikini-ria di salah satu slide powerpoint-nya! Tanpa sengaja saya nyeplos, ‘Should I close my eyes?’ Beberapa teman ngikik, dan setelah itu beberapa teman yang lain ‘menginterogasi’ saya. Kenapa saya begini dan begitu. Duh, semoga ditabahkan!

Bagian 8: Saya dan Lantai

8

Gambar 8. Tombol Lift di Salah Satu Flat di Kawasan Planetenlaan, Groningen. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Agaknya sistem per-lantai-an di Belanda berbeda dengan di Indonesia. Di Belanda, seperti halnya di Inggris (kalau tidak salah), lantai 1 (dasar, bukan bawah tanah) disebut sebagai lantai 0 (ground floor), sedangkan lantai 1 (dasar, bukan bawah tanah) di Indonesia tetap dinamakan lantai 1. Jadi, misal saya sekarang tinggal di sebuah flat yang menurut versi saya itu adalah lantai 6, menurut orang Belanda lantai tersebut adalah lantai 5. Bingung? Sama, saya juga.

Bagian 9: Saya dan Cerita Teman Tentang PPI

9

Gambar 9. Memperingati Hari Batik Bersama PPI dan Para Warga Indonesia di Groningen. Sumber: Dokumentasi PPI Groningen

Saya jadi teringat sebuah obrolan ringan bersama salah satu teman saya yang boleh dibilang ‘sangat kritis dan idealis’. Beliau bercerita bahwa apabila perhimpunan pelajar Indonesia hanya sekadar event organizer saja, beliau tidak akan pernah mau ikut bergabung. Beliau sangat mendambakan sebuah perhimpunan pelajar layaknya pada zaman Bung Hatta, dengan fokus kegiatan utama pada diskusi solutif terhadap permasalahan bangsa, yang bahkan dari diskusi tersebut bisa sampai menimbulkan pergerakan di Indonesia. K-e-m-e-r-d-e-k-a-a-n. Ya memang konteks sekarang tidak bisa disamakan dengan konteks masa lampau, tapi bukankah Indonesia sampai detik ini pun masih banyak pe-er nya? Apakah Indonesia pernah kekurangan masalah? Ah, saya jadi malu sendiri kalau nanti bertemu beliau. Di lain kesempatan, seorang rekan juga berujar bahwa semakin banyak ‘kegiatan maha-besar’ yang diselenggarakan oleh PPI, semakin terkuras tenaga, waktu dan pikiran para pengurus dan anggota, yang seyogyanya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain yang sekiranya bisa mempunyai dampak langsung terhadap negara. Well, sepertinya saya hanya bisa bicara tanpa bisa melakukan aksi. No Action, Talk Only. Saat ini saya tercatat sebagai salah satu anggota PPI, tapi saya pribadi merasa kurang kontributif terhadap organisasi dan bangsa (?). Sok sibuk sebagai mahasiswa S2 dengan tugas-tugas yang you-know-them-so-well, padahal sejatinya apalah saya, hanya remah-remah bakwan sayur belaka.

Bagian 10: Saya dan Paper Yang Dikembalikan

10

Gambar 10. Final Portfolio Mata Kuliah Theory of L2 Development (82 Halaman). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sering copy-paste artikel bersumber dari blog atau website yang tidak jelas? Tidak tahu cara mengutip langsung dan tidak langsung? Bingung membuat parafrase yang baik dan benar? Kelar urusan! Critical essay saya pernah dikembalikan hanya karena saya lupa membubuhkan nomor halaman di akhir sebuah kutipan langsung di salah satu paragraf yang saya buat. Kali tersebut dosennya memaafkan. Fuih! Di lain kesempatan, saya pernah dituduh melakukan plagiat karena saya tidak mengutip dengan benar. Horor! Tahu sendirilah bagaimana ketatnya pengawasan terhadap plagiarisme di universitas sampai-sampai ada mesin khusus untuk mengecek ‘kesahihan’ suatu tulisan. Plagiarism Scanner, namanya. Saya jadi merinding-disko ketika seorang teman pernah bercerita kepada saya bahwa temannya (baca: temannya teman saya itu) sampai harus mengulang course atau mata kuliah gegara lupa memperhatikan cara mengutip sesuai standar. Sengaja dan tidak sengaja dianggap sama. Bujubuneng. Oleh karena itu, penting sekali kiranya ini untuk diperhatikan oleh kamu-kamu yang ingin sekali kuliah di negeri kincir angin. Tidak akan bisa survive seorang pelajar di Belanda hanya dengan bermodalkan kemampuan super-canggih meng-copast tulisan orang dari internet. Tetap nekat? Wassalam!

Bagian 11: Saya dan Kumandang Adzan di Kelas

11

Gambar 11. Kuliah Teaching Methodology oleh Merel Keijzer. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saya mudah sekali lupa. Salah satu yang cukup menggemparkan dunia persilatan (baca: perkuliahan) adalah ketika saya lupa mematikan fitur suara di salah satu aplikasi jadwal shalat di smartphone saya. Begitu waktu Dhuhur tiba, berkumandanglah itu adzan di seantero kelas.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Saya kemudian meminta maaf kepada dosen dan juga teman-teman se-kelas saya selaku hadirin dan hadirat di seminar mata kuliah Theory of Second Language Development. Tahu tidak apa tanggapan dari dosen saya? Beliau berkata, ‘So special!

Bagian 12: Saya dan Halte Yang Tertukar

12

Gambar 12. Halte Bis De Trefkoel, Groningen. Sumber: Google Map

Suatu pagi saya hendak berangkat menuju rumah guru ngaji saya di Groningen. Saya terdaftar sebagai salah satu anggota kelompok tahfidz yang difasilitasi oleh DeGromiest (komunitas Muslim Indonesia di Groningen). Jangan tanya saya sudah hafal berapa juz. Boro-boro deh, panjang pendek bacaan Al-Qur’an saja saya masih belepotan! Pagi itu saya harus ke Winkelcentrum Paddepoel terlebih dahulu untuk pick-up order ov-chipkaart saya. Sesuai petunjuk aplikasi 9292, saya harus menunggu bis di halte De Trefkoel. Aneh. Sudah lewat beberapa menit, bis belum juga menampakkan diri. Saya lalu melihat petunjuk arah yang ada di halte. Aneh. Daerah yang saya tuju tidak tercantum di sana. Di halte seberang, yang juga bernama De Trefkoel, saya pun masih belum menemukan bis dengan arah yang saya tuju. Oalaa. Ada satu halte bis lagi yang ternyata juga bernama De Trefkoel. Letaknya di dekat-dekat situ. Memalukan, padahal saya sudah tinggal di Groningen lebih dari 6 bulan. O iya, masih terkait dengan halte bis, sebisa mungkin, kalau tidak kepepet, saya tidak akan mau turun di halte bis Zuiderdiep, di mana para halte berjejer-jejer secara unyu. Masih bingung sampai sekarang! Saya pernah sa’i (baca: bolak-balik ke sana kemari untuk melihat jadwal bis dan peta petunjuk arah) di sana persis kayak setrika kurang kerjaan. Dilihat bule-bule lagi. Hadeh.

Bagian 13: Saya: Ibadah atau Kuliah?

13

Gambar 13. Prayer Room Pertama (2016) di Harmonie Building (Harmoniegebouw). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pernah ada suatu masa di mana jadwal kuliah saya ‘bentrok’ dengan jadwal shalat Dhuhur dan Ashar pada bulan-bulan itu (tahu sendiri kan jadwal shalat di Belanda berubah-ubah, menyesuaikan dengan peredaran matahari). Saya tidak paham-paham amat apakah shalat jama’ (dan/atau qashar) dalam kondisi tersebut dengan status saya sebagai musafir-mukim-satu-tahun bisa menjadi justifikasi (kecuali ketika tengah di perjalanan). Berhubung saya juga tidak benar-benar mengerti mana yang boleh mana yang tidak, saya lalu memilih jalur yang aman saja; izin beribadah ketika jam kuliah. Masya Allah. Ternyata diperbolehkan! Dosen-dosen saya baik-baik, ya. Semua bisa dikomunikasikan tanpa harus mengorbankan atau merugikan salah satu pihak. Ibadah jalan, kuliah juga tetap jalan, deh! Kuliah juga bagian dari ibadah sih, tapi bukan berarti kita lalai terhadap ibadah wajib seperti shalat, kan?

Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.

Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,

Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,

Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.

Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.

Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.

Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya.

Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.

Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian. (Imam Asy-Syafi’i)

 

Ditulis oleh  Muzakki Bashori

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: