Sayembara Desain Batik dari Negeri Sakura

Karya pemenang sayembara batik, Morinta Rosandini

Kanazawa, 30 September 2017, PPI Jepang, PPI Hokuriku, dan PPI Ishikawa mengadakan sayembara yang bertujuan untuk promosi batik di Jepang. Tidak hanya sayembara, diadakan juga bincang-bincang yang dihadiri para ahli batik. Diharapkan kesadaran akan berharganya batik dapat tersampaikan bagi para hadirin.

            Bertempat di Ishikawa International House, sayembara dan bincang-bincang dihadiri oleh tiga narasumber: Ibu Alinda F.M. Zain, selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo; Ibu Rodia Syamwil, selaku Dewan Batik Nasional; dan  Prof. Haruya Kagami dari Kanazawa University yang pernah melakukan riset di Bali pada 1981.

Imam Tahyudin selaku Ketua Komsat Ishikawa menyampaikan sepatah kata sebagai pembuka acara tersebut. Sejak awal terselenggaranya acara ini, sayembara batik merupakan salah satu program kerja unggulan PPI Ishikawa yang pernah memenangkan penghargaan dari PPI Dunia karena dianggap sukses mempromosikan Indonesia di muka dunia. Selanjutnya, Ibu Alinda juga memberikan kata sambutan. Menurut beliau, batik sebagai salah satu contoh kekayaan warisan budaya Indonesia, tentunya harus kita lestarikan. Namun, sebagai WNI di luar negeri, kita juga harus melakukan sosialisasi agar batik dapat dikenal oleh masyarakat dunia.

Memasuki sesi bincang-bincang, kembali Ibu Alinda menekankan pentingnya pelestarian batik. Mungkin pernah terbesit di benak tentang peristiwa reog Ponorogo yang sempat diklaim oleh Malaysia tahun 2007. Demi mencegah hal seperti ini terulang kembali, sosialisasi batik sudah dilakukan oleh pemerintah seperti menerapkan hari batik setiap Jumat. Langkah seperti ini diambil untuk menanamkan pentingnya batik sebagai bagian dari identitas bangsa. Sayembara batik kali ini juga merupakan perwujudan nyata dari para pelajar Indonesia dalam menguatkan batik sebagai identitas.

Meskipun batik lekat dengan sesuatu yang resmi, pengunaannya tidak harus selalu demikian. Memang kerap kali batik dikenakan untuk acara kenegaraan ataupun acara-acara lain yang mempertemukan kita dengan tamu penting. Padahal batik dapat juga dikenakan untuk sehari-hari. Misalnya mengabungkan kemeja batik dan celana jins dapat memberikan kesan yang lebih santai tetapi tetap rapi dan sopan. Langkah-langkah seperti ini dapat kita lakukan dalam keseharian, sekaligus promosi batik kepada lingkungan sekitar kita.

Batik pertama kali diperkenalkan lewat sidang PBB tahun 2009.  Ibu Rodia menjelaskan bahwa batik sebenarnya tidak hanya terdapat di Indonesia, tetapi juga di India, Jepang, bahkan di Slovakia yang berada di bagian timur Eropa. Batik juga melewati berbagai perkembangan zaman hingga menjadi seperti  hari ini. Batik di zaman kerajaan Hindu tentunya berbeda dengan kerajaan Islam, pun berbeda pula dengan yang ditemukan di Kesultanan Yogyakarta. Hal yang paling mencolok adalah perbedaan motif.

Prof. Haruya menjelaskan pentingnya motif batik dan juga filsafat yang terkandung daripadanya. Mengambil contoh batik yang terdapat di Jepang, Prof. Haruya menjelaskan makna dari beberapa motif batik. Misalnya motif Gunung Fuji menggambarkan tempat bersemayam para dewa, tempat yang tiada duanya. Ada juga motif bahan makanan mentah yang bermakna hasil alam berlimpah. Motif yang tertuang pada kain menggambarkan keadaan dan harapan sang penggambar, serta memberikan identitas pada batik, menjadikannya sesuatu yang spesial.

Di akhir sayembara ini, para narasumber mengumumkan pemenang desain batik. Sayembara tahun ini dimenangkan oleh Morinta Rosandini, dosen Telkom University dengan judul “Kanaka Batik”. Hadiah berupa sertifikat dan uang pelatihan diserahkan langsung oleh para narasumber. Tidak lupa, pada kesempatan itu PPI Ishikawa juga meluncurkan buku “Bunga Rampai Achantus: Sejuta Cerita Dari Kanazawa”. Buku ini berisi kumpulan cerita mahasiswa yang saat ini berdomisili di Kanawawa. Harapannya buku ini dapat menjadi panduan bagi teman-teman yang berencana ke Jepang dan juga penyemangat bagi para pelajar di Jepang.

Mari kita sama-sama melestarikan batik dalam keseharian dan tidak melupakan pentingnya warisan kebudayaan Indonesia!

Penulis: Theodorus Alvin

Tokai University (Undergraduate), School of Information Science, Dept. of Human and Information Science

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: