Sejarah Baru di York

Tulisan ini merupakan kisah perjalanan seorang gadis berusia 27 tahun yang sudah memimpikan rencana PhD-nya di Inggris sejak tiga tahun lalu, tepatnya bulan Juli 2013. Menariknya lagi, studi yang dicari berfokus pada riset politik lingkungan global, yang belum banyak ditekuni oleh para ahli atau akademisi Indonesia. Selain menekuni penelitian bidang kebijakan perubahan iklim Inggris dan Indonesia dan peran masyarakat sipil, seorang Gracia turut mencetak sejarah baru di York, yakni sebagai orang Indonesia pertama yang bergabung di Graduate Student Association (GSA). Apa dan mengapa GSA? Simak tulisan berikutnya!

 

wh(Y)ork?

Sudah hampir 2 bulan lamanya tinggal di York, sebuah kota kecil dan cantik di Inggris Raya bagian utara. Uniknya, belum banyak orang Indonesia yang menempuh studi di University of York. Dari data Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) York 2016, total pelajar Indonesia yang telah dan sedang menimba ilmu di York adalah 49 orang. Iya, kami kelompok kecil dibandingkan PPI Birmingham, PPI London, dan PPI Edinburgh atau bahkan tidak sebesar PPI Leeds yang lokasinya cukup dekat dari York. Secara historis, kota York termasuk salah satu kota tertua di Inggris bahkan sejak zaman Medievalism (Zaman Kegelapan) sebelum diterbitkannya sebuah pencerahan di abad 14 atau dikenal dengan sebutan Renaissance. Warisan historis ini pun terlihat secara nyata melalui benteng-benteng yang masih kokoh dan megahnya York Minster sebagai ikon kota  yang berpenduduk sekitar 205.000 orang ini.

Alasan utama memilih Inggris sebagai negara tujuan studi S3 karena Inggris merupakan negara perintis ilmu hubungan internasional. Hubungan Internasional sendiri lahir pada tahun 1919, yang diprakarsai oleh sebuah kajian studi di University of Aberystwyth, Wales, Inggris. Kajian politik lingkungan global sendiri berasal dari cabang atau bagian dari ilmu politik, yang masih bersinggungan dengan pendekatan hubungan internasional. Awalnya tidak pernah terbayang dan terpikir akan mendaftar di University of York. Pencarian jurusan  politik lingkungan yang digemari di Inggris jatuh pada University of Edinburgh, Scotland, UK. University of Edinburgh memiliki reputasi yang sedang naik daun, masuk dalam 20 kampus terbaik di dunia berdasarkan QS World University. Saya mantap untuk mendaftar kampus tersebut dengan proposal riset yang berjudul “Climate Change Governance and the Rise of Civil Society: Case Study Indonesia-UK Climate Change Partnership”. Tanpa disadari, tidak banyak pakar atau ahli lingkungan global di kampus tersebut yang tertarik dengan kasus di Indonesia. Dua kali saya mencoba daftar dan ternyata gagal.

Sedih dan kecewa jelas menjadi impresi pertama yang muncul. Namun, asa dan semangat untuk terus melanjutkan mimpi PhD di Inggris di usia muda tidak pernah berhenti. Beberapa dosen Magister saya di Universitas Indonesia (UI) dan mentor saya yang bekerja di bidang lingkungan hidup pernah berkata bahwa sekolah di level S3/PhD sangat berbeda dengan Magister atau Sarjana. Jenjang pendidikan tertinggi ini menuntut sinkronisasi pembimbing dengan calon mahasiswa S3 untuk menjadi mitra riset yang mumpuni, serta mengedepankan lahirnya sebuah kajian atau pendekatan teoritis baru. Artinya, kampus tidaklah menjadi jaminan bagi masa depan seorang pelajar PhD. Justru calon pembimbinglah yang diutamakan dan berusaha mencari yang sesuai dengan passion riset kita. Setelah mendaftar 7-8 kampus Inggris lainnya, tidak disangka kurang dari 1 bulan University of York merespon dengan cepat. Puji Tuhan akhirnya saya diterima dan mendapat 2 calon pembimbing yang pantas membimbing riset saya. Mereka adalah Prof. Neil Carter, ahli di bidang politik lingkungan dan Dr. Claire Smith, pakar kajian gender dan politik Indonesia. Beliau-beliau inilah yang akan membimbing riset PhD saya hingga lulus 3 tahun yang akan datang.

Setelah seminggu tinggal di York, banyak kejutan dan keseruan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Salah satunya adalah suara itik atau bebek yang turut meramaikan suasanan kampus yang hening. University of York bisa dibilang salah satu kampus tercantik di Inggris karena memiliki danau yang indah dan area pepohonan yang sangat rindang, tak luput pula dengan ikon “Duck of The Day” yang menjadi ciri khas. Kejutan lainnya terletak pada kualitas University of York. Menurut Times Higher Education (THE), University of York termasuk kampus terbaik di Inggris yang umurnya kurang dari 100 tahun. Sebagai kampus yang berbasis utama pada riset, kampus York juga masuk ke dalam Russell Group (kelompok akademik bergengsi yang selevel dengan Ivy League di Amerika). Lebih lanjut, kampus York memiliki perwakilan mahasiswa Pascasarjana yang terpisah dengan Sarjana (undergraduate), yang disebut Graduate Student Association (GSA). Beberapa bukti nyata keberhasilan GSA di kampus ialah dibukanya perpustakaan kampus selama 24 jam nonstop beserta dengan bus nomor 66. Tim GSA membuat petisi, lalu mengumpulkan suara dan dukungan para mahasiswa dan membawanya ke rektorat hingga melobi secara langsung dengan para petinggi kampus. Poin penting lainnya lagi tentang keunggulan York adalah bergabungnya University of York di White Rose Doctoral Training Center (WRDTC) yang berkolaborasi juga dengan University of Sheffield dan University of Leeds.

img_0490 img_0538

img_0254 img_0473

 

PhD: Sebuah Transisi Pemikiran dan Sikap

Minggu pertama perkuliahan jatuh pada tanggal 1 Oktober 2016, di mana seminggu sebelumnya telah berlangsung induction session dari GSA. Di Inggris, rata-rata mahasiswa PhD tidak diwajibkan untuk mengambil mata kuliah atau mengikuti lecture dan seminar di kelas. Hal ini pun berlaku di University of York (UoY). Lecture dan seminar tipenya berbeda, lecture berupa pemaparan dosen selama sejam sedangkan seminar berupa diskusi interaktif antara dosen dan mahasiswa di kelas selama satu setengah hingga dua jam. Untuk evaluasi, mahasiswa PhD di UoY tidak mendapatkan GPA, namun harus lulus di setiap sidang 6 bulan sekali atau biasa disebut Thesis Advisory Panel (TAP) Meeting. Jika sekali calon PhD gagal sidang, akan diberi kesempatan untuk sidang ulang. Jika kesempatan kedua masih gagal, maka calon mahasiswa PhD akan dikaji ulang dan bahkan dikeluarkan dari kampus.

Pertemuan saya dengan dua pembimbing cukup intensif, setiap dua minggu sekali bertemu dan memberikan hasil laporan paska meeting dan follow up tulisan proposal riset saya. Karena ada dua pembimbing, yang menjadi tantangan adalah akomodasi waktu mereka berdua untuk bisa bertemu dan berdiskusi dengan saya dalam waktu yang sama. Untungnya, cukup mudah menemukan kesamaan waktu luang mereka dalam memberikan masukan dan arahan bagi kajian yang saya teliti. Saya merasa bersyukur memiliki pembimbing yang perhatian dan mau membagikan list referensi atau pustaka yang perlu saya telusuri. Tidak disangka, ketika saya membaca ensiklopedia politik lingkungan global, Prof. Neil Carter masuk sebagai salah satu kontributor yang selevel dengan Profesor lain dari University of Oxford atau University of Cambridge. Hal ini semakin memantapkan semangat dan keseriusan saya menyelesaikan PhD Politics ini dengan baik dan cepat, karena mendapatkan seorang pakar yang kredibel dan mumpuni!

Selama sebulan mempelajari riset PhD, proses akademik ini turut mengubah pola pikir dan sikap saya dengan sebuah isu. Jika dulu saya bisa saja langsung mengambil kesimpulan dini. Namun, di dunia PhD, mahasiswa dituntut untuk lebih kritis dan terus bertanya pada sebuah kasus atau fenomena, terutama yang berdampak pada topik riset mereka. Sikap pun berubah karena rasionalitas ini membawa seorang diri PhD untuk terus semangat, bersabar, dan tenang dalam menghadapi berbagai rintangan yang kompleks. Setidaknya, ini refleksi yang bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang hendak merencanakan PhD.

img_0184 img_9648

img_9268 img_9303

 

Aktivisme, Lingkungan, dan Memasak!

Dunia akademik sudah menjadi “makanan sehari-hari” saya sebelum pindah ke Inggris. Sebagai seorang dosen Hubungan Internasional di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta selama 3 tahun sekaligus lahir dari keluarga akademisi (ayah dan ibu juga berprofesi sebagai dosen), hal ini sudah menjadi bukti otentik bahwa academic is a part of my life. Bahkan, minggu lalu Ibu saya baru saja wisuda Doktor Teologia di sebuah kampus swasta Jakarta dengan predikat “Lulusan terbaik”.

Namun, kegiatan akademik perlu diimbangi dengan kegiatan non akademik lainnya. Saya suka dengan kesibukan dan banyak aktivitas, karena mampu memacu kemampuan saya untuk mengorganisir diri dan orang lain. Selain studi, saya pun memutuskan untuk aktif organisasi kampus, terus mengeksplor aktivitas peduli lingkungan hidup dan bernyanyi. Untuk bergabung di paduan suara (University choir) dan kelompok peduli lingkungan hidup (greenSTEMS) di kampus tidaklah sulit, langsung datang di pertemuan rutin mereka dan mengaktifkan diri. Sedangkan untuk menjadi anggota dewan organisasi kampus yang bernama GSA, setiap calon anggota harus mencalonkan diri (nominate) untuk nantinya dipilih oleh mahasiswa melalui voting, baru resmi menjadi bagian dari GSA. Di term pertama ini, saya mendaftarkan diri di GSA sebagai anggota dewan komunitas, yang nantinya mengkoordinasi dan bekerja sama antara beberapa jejaring komunitas internal GSA dengan pihak masyarakat di York atau sektor eksternal lainnya. Selama seminggu kampanye dan sebagai hasilnya, TERPILIH! Inilah kejutan yang akhirnya berhasil saya berikan bagi Indonesia sekaligus sejarah baru di York karena belum pernah ada pelajar Indonesia yang memberanikan diri untuk bergabung di GSA. Selama setahun ke depan bersama teman-teman tim GSA akan membuat kebijakan yang lebih kondusif lagi bagi mahasiswa dan civitas akademika lainnya di UoY. Pengalaman di GSA ini juga turut menantang saya untuk mempraktikkan langsung ilmu politik, demokrasi, dan bagaimana membuat sebuah keputusan bersama dalam sebuah organisasi.

Ada satu kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan para perantau jauh, yakni memasak. Biasanya hal ini dikondisikan karena keadaan atau paksaan. Namun, saya sejak lama memang suka memasak, khususnya roti dan kue. Sejak pindah ke York, skill memasak ini memang semakin terasah dan menjadi daya tarik tersendiri khususnya setelah pusing seharian dengan riset. Hahahaa… Beruntungnya lagi karena memiliki tetangga (flatmate) yang beraneka ragam etnisnya dan dapur yang nyaman, sempat saya memasak rawon dan soto. Flatmate saya dari China, Debby suka dengan menu tersebut. Sebuah aktivitas menyenangkan yang bisa membawa keceriaan tersendiri di Inggris!

img_9829  img_9927

 

Jas Merah

Berkaca pada kegiatan di atas, terutama keikutsertaan saya dalam GSA, ada hal menarik yang bisa menjadi pemicu teman-teman untuk terus berkontribusi bagi negeri. Buatlah sejarah baru! Sejarah ini tidak harus skala besar dan masif, sehingga membutuhkan banyak pengorbanan atau resiko yang riskan. Mulai dari hal kecil atau yang ada di dekat sekitar kita, cari sesuatu yang berbeda, ambil keputusan, dan berani berbuat dari pilihan yang sudah kita ambil. Mungkin track record ini belum berdampak, tapi setidaknya ada warisan baru yang bisa diteruskan dan dikembangkan oleh para pelajar Indonesia lainnya. Jika Soekarno mengatakan JAS MERAH atau “Jangan melupakan sejarah”, saya ingin menambahkan satu kalimat lagi “tetapi jangan lupa pula untuk membuat sejarah!”

 

 

 

Penulis: Gracia Paramitha,

PhD Politics

University of York

Inggris

 

Email: gp791@york.ac.uk

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: