Serba-serbi Ramadan di Kairo

Kairo – Mungkin ini adalah tahun pertama saya merasakan bulan suci Ramadan di Kota Kairo, Mesir. Biasanya saya menjalani dan menikmatinya di kampung halaman. Tentu dengan tradisi dan corak yang sangat berbeda.

Baik senang maupun susah silih berganti dirasakan. Senang karena mendapatkan pengalaman baru, tradisi baru, terlebih bisa lebih khusyuk beribadah dengan kurangnya godaan di negeri para nabi ini, ya di bumi para nabi. Terasa sedih karena jauh dari orang tua dan keluarga yang biasa menemani setiap Ramadan.

Kairo memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Masyarakat Mesir terlebih yang berdomisili di Kairo sangat antusias menyambut bulan yang hanya hadir satu tahun sekali ini.

Di antaranya mereka membeli fanus, yaitu semacam lampu Aladin ala Timur Tengah, dengan berbagai macam warna untuk dipasang di jalan-jalan agar terlihat lebih indah, terlebih malam hari. Masjid pun tak kalah dihias dengan fanus sehingga keindahannya sungguh luar biasa pada malam hari.

Tradisi lain yang menarik adalah orang-orang kaya di Mesir dan negara Arab pada umumnya menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi masyarakat dan orang-orang secara gratis, baik dengan skala kecil maupun besar. Kami biasa menyebutnya disini sebagai maidatur rahman.

Memilih maidatur rahman menjadi perhatian khusus mahasiswa di sini karena menu makanan yang disediakan di setiap tempat antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Jadi kita memilih kebebasan sesuai menu makanan yang disuka.

Semua orang mampu di Mesir berlomba berderma menyediakan hidangan berbuka alias maidatur rahman (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Mulai menu makanan Asia, seperti ayam, ikan, daging yang cocok dengan lidah dan cita rasa kami, mahasiswa asal Indonesia, maupun makanan asli Mesir seperti isyy, yaitu semacam roti yang terbuat dari tepung dan gandum, atau fuul semacam kacang yang dicampur dengan minyak goreng dan sebagainya.

Rasa toleransi masyarakat di Mesir sangat tinggi, hal ini terbukti mayoritas toko atau warung tutup hingga menjelang waktu berbuka tiba. Dan ditutup kembali jika waktu azan isya dan salat tarawih tiba hingga kembali dibuka setelah salat tarawih hingga menjelang waktu sahur.

Toko-toko di Kairo tutup saat siang, buka menjelang waktu berbuka. Tutup lagi saat azan isya, buka usai tarawih hingga sahur. (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Ramadan di Mesir sangat terasa kehadirannya. Hal ini terbukti dengan masjid yang selalu penuh dengan banyaknya warga asli Mesir maupun warga negara asing seperti kami yang beribadah di dalamnya. Terlebih malam hari hingga menjelang subuh karena sangat ingin sekali memanfaatkan waktu yang sangat berharga yang hanya datang satu tahun sekali ini.

Salat tarawih di Kairo (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Dan perlu diketahui, waktu berpuasa di Mesir sedikit lebih lama dibanding di Indonesia. Waktu puasa di Mesir sekarang sekitar 16 jam. Jadi kami melakukan ibadah puasa dimulai dengan sahur pukul 02.30 pagi dan berbuka pukul 19.00. Maka tak jarang kami tidur dalam waktu yang sangat singkat atau diganti dengan belajar dan ibadah-ibadah yang lain.

Terlebih bulan puasa kali ini di Mesir sedang memasuki musim panas yang suhunya masih berubah-ubah dan belum mencapai puncaknya. Suhu panas tertinggi disini bisa mencapai 40 derajat Celsius. Maka dibutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra untuk bertahan di cuaca yang sangat panas.

Penulis: Haidar Masyhur Fadhil, mahasiswa Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Anggota Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: