Simposium Asiania – Taipei 2017 Hari Kedua, 24 Maret 2017

Pada hari kedua simposium Taipei ini berlangsung Simposium Asia-oceania. Simposium hari kedua dibuka oleh Ketua PPI Taiwan, Pitut Pramudji; Ketua PPI Asia-Oceania, Bagus Ari Hayanto dari PPI Tiongkok dan wakil Ketua KDEI Taipei, Siswandi T.Sibero.

 

Simposim hari ini menghadirkan Keynote Speech dari Yu-Chen Chiu dari Kementrian Pendidikan Republik China. Yu-Chen Chiu menyampaikan perihal pentingnya kerjasama antara Indonesia dan Taiwan di bidang pendidikan, sehingga diharapkan ada semakin banyak lagi pelajar Indonesia yang akan menimba ilmu di Taiwan.

 

Pada panel 1, dengan tema Pemetaan Permasalah Sektor Pendidikan di Indonesia, hadir pembicara , Ferdiansyah, SE, M.M, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Arief Suditomo, S.H, M.A, Anggota Komisi VIII DPR RI, dan Dr.Ir. Erry Ricardo Nurzal, M.T, M.PA, Kepala Biro Perencanaan Kemenristekdikti.

 

Narasumber pertama, Ferdiansyah menekankan bahwa ada tiga permasalahan utama dalam pendidikan di Indonesia, yaitu pemerataan akses, mutu dan relevansi, serta akuntabilitas dan tata kelola pendidikan.

 

Sementara itu, Arief Suditomo lebih memfokuskan pada cara pandang dalam menghadapi permasalahan pendidikan di Indonesia. Arief juga menyampaikan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi bagian penting dari pendidikan di Indonesia dan bisa menjadi solusi untuk permasalahan pendidikan di Indonesia.

 

Pada panel 2 dengan tema tantangan global dan regional dalam menyiapkan tenaga kerja yang berdaya saing, hadir beberapa pembicara, yaitu  Maria Indira Aryani (pemenang call for paper), Imdadun Rahmat, Ketua Komisi Nasional HAM Republik Indonesia, Akhyari Hananto-pendiri Good News From Indonesia (GNFI), dan Paramitaningrum, alumnus pelajar Indonesia di Taiwan yang mengajar di Universitas Bina Nusantara.

 

Maria menyampaikan pentingnya pengalaman internasional bagi para pelajar untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

 

Akhyari Hananto menyebutkan bahwa untuk meningkatkan daya saing Indonesia, pemuda perlu memiliki sikap kritis, percaya diri, dan optimis. Dilatarbelakangi fakta banyaknya berita-berita negatif di media Indonesia, Akhyari menyadari bahwa hal ini berdampak pada pesimisme bangsa Indonesia.

 

“Maka GNFI hadir untuk menyebarkan informasi-informasi yang membanggakan dari Indonesia,” papar Akhyari.

 

Pada panel ketiga, topik Kontribusi diaspora Indonesia menjadi bahan diskusi panel yang menghadirkan narasumber Gilang Mukti Rukmana (pemenang Call for Paper), Nangkula Utaberta Ph.D, Presiden WARIS, dan Haris Kusworo, M.Si. yang merupakan peneliti dari Parameter Nusantara.

 

Prof. Nangkula, pengasuh Warisan Alam Budaya dan Reka Bentuk Islam (WARIS) research goup menekankan budaya riset bersama. “Agar anggota lebih mudah menyelesaikan riset karena banyak ide kreatif” papar arsitek yang menyelesaikan gelar Master nya dalam waktu 6 bulan ini.

 

Simposium ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: