Do You Still Think That Age Does Matter ? I Am 24 Years Old but My Dream Is Valid

annisatriyanti0_1024x768

SAM_2505

By Annisa Triyanti

PhD Candidate-Governance and Inclusive Development, AISSR, UvA

Tentang saya

Perkenalkan nama saya Annisa Triyanti, biasa dipanggil Icha. Saya lahir pada tanggal 5 Agustus 1989 di Jakarta. Saya mulai bekerja sebagai dosen muda di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sejak Desember 2012, saat saya masih berumur 23 tahun.

Di usia ke 24 tahun, 7 bulan, dan 6 hari, saya resmi terdaftar sebagai PhD candidate di Amsterdam Institute for Social Science Research (AISSR), Governance and Inclusive Development Programme Group, Universiteit van Amsterdam (UvA).

Saya bukan anak akselarasi

Pada tahun 2007 saya memulai program S1 di Fakultas Geografi, jurusan Geografi Lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Di Bulan Juni tahun 2011, setelah 3 tahun 10 bulan, Alhamdulillah saya lulus dengan predikat Cum Laude. Saya merupakan mahasiswa pertama di angkatan dan jurusan saya yang menghadapi ujian sidang pada saat itu. Singkat cerita, di tahun yang sama di Bulan September saya mendapatkan kesempatan melanjutkan kembali studi master di Magister Pengelolaan dan Perencanaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) Fakultas Geografi UGM dengan beasiswa dari Beasiswa Unggulan BPKLN Dikti Kemendiknas.

Di akhir tahun 2011, saya mendapatkan informasi adanya pembukaan sebuah peluang beasiswa dari cooperation project di Cologne University of Applied Science, Germany. MSc program di ITT (Institute for natural resources management in the tropics and subtropics).  Program tersebut dibiayai oleh DAAD. Saat itu, tanpa pikir panjang, saya mendaftar. Dengan bermodal sertifikat TOEFL IBT dan IPK sarjana, saya mencoba peruntungan. Tidak disangka, saya terpilih dan merupakan satu-satunya mahasiswa Indonesia yang berangkat ke Jerman. Merasakan pengalaman tinggal di Jerman merupakan hal yang luar biasa. Untuk pertama kalinya saya merasakan berinteraksi dengan komunitas mahasiswa internasional.

Setelah kembali dari Jerman di Bulan Februari 2013, saya merasa sangat tertinggal dari perkembangan tesis teman-teman saya yang tidak terlibat dalam joint degree program. Saya merasa sangat frustasi dan sangat takut jika saya harus menunda satu semester untuk menyelesaikan tesis saya di UGM. Namun, ketakutan itu saya jadikan motivasi terbesar saya untuk segera melaksanakan penelitian lapangan di Demak, Jawa Tengah. Teman-teman seangkatan yang memilih lokasi penelitian di sana sebagian besar sudah berangkat mengambil data bersama-sama. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendirian, daripada harus menunggu teman lain untuk ke lapangan. I am running out of time! (of my own deadline). I should do it myself, I should not depend on someone, kelulusan saya adalah tanggung jawab saya sendiri.

Saya kembali dari Demak dan langsung menulis. Saya menutup telinga dan mata rapat-rapat dari godaan “tidak”mengerjakan tesis. Saya memaksakan diri saya berdiam diri di perpustakaan kampus. Saya menyelesaikan tesis saya selama 1 bulan dan langsung mengajukan thesis defense di Bulan Mei 2013. Saya kira saya terlambat, namun ternyata saya adalah orang pertama yang mengajukan permohonan ujian tesis di angkatan saya. Mendapatkan gelar M.Sc di Bulan Juli tahun 2013 adalah sebuah berkah tak terhingga. Saya terpilih untuk memberikan sambutan kelulusan. Saat itu saya mengutip sebuah kalimat menggugah dari seorang professor muda (38 tahun) yang luar biasa.

Saya tidak bisa tidur satu hari sebelum PhD defense saya di Giessen (Giessen University, Germany). Saya memandang buku disertasi saya yang tebal, dan kemudian bertanya pada diri sendiri. Untuk apa sebenarnya semua ini (gelar PhD dan disertasi)?”.

Beberapa hari sebelum memberikan sambutan, saya mampir ke ruangan beliau dan menanyakan pengalaman beliau mengikuti program S3 di usia muda. Jujur saat itu saya takut, sangat takut tidak qualified untuk mendaftar S3.

 “Cha, yang penting nantinya bukanlah gelar kamu, tapi apa yang bisa kamu lakukan dari gelar yang kamu dapatkan, kontribusi apa yang bisa kamu berikan ke masyarakat?”

Lalu saya menangis, di ruangan itu, di depan professor saya.

Beliau adalah supervisor saya ketika master di UGM. Beliau adalah ketua program studi master saya.  Orang yang mau menoleh di suatu hari bersejarah saat saya memutuskan untuk langsung bertanya “Bapak apakah saya boleh mendaftar beasiswa unggulan yang bapak tawarkan barusan di dalam forum?, kepada siapa saya harus memberikan berkas-berkas pendaftaran saya?”.

Cerita dan peristiwa singkat tersebut sebenarnya pemicu yang hebat. Setelah lulus S2, saya langsung berusaha mendaftar program S3 ke semua peluang beasiswa dan posisi S3 project di Belanda dan Jerman. Semua menolak karena disamping menjadi dosen muda, saya belum pernah punya pengalaman bekerja. Sudah lebih dari 20 project di berbagai universitas di Belanda dan Jerman yang pernah saya kirimkan aplikasi. Tidak ada jawaban, hopeless sudah.

Baru di tanggal 29 September 2013, seorang professor di Universiteit van Amsterdam membalas email saya. Beliau meminta CV saya dan menanyakan state of the art dari proposal penelitian saya. Saat itu saya hanya meminta Letter of Acceptance tanpa ada jaminan beasiswa. Saat saya melakukan interview dengan professor tersebut, saya hanya bermodal yakin. Saya berkata “I have 90 percent of faith that I will get the scholarship if only you would give me the letter”.

Sang professor terdiam sejenak, dan kemudian bertanya kembali ,

Professor            : “How old are you?”

Me                         : “I am 24, but I am sure I will give my best performance, you should give me a shot”

Dan pada tanggal 11 Maret 2014, saya sampai di Amsterdam, dengan dukungan penuh dari Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia.  I am 24, I have a dream, but my dream is valid…

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: