Tantangan Kuliah di Britania Raya (UK)

ekitar satu tahun yang lalu saya membuat keputusan yang sangat besar, yaitu melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri. Ya, saat itu saya sudah bekerja selama kurang lebih 2 tahun di Indonesia. Tidak terbayangkan memang saat itu bagaimana rasanya menjadi mahasiswa dan duduk di bangku kuliah lagi. Tapi setelah membulatkan tekad akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat. Tidak sulit bagi saya menentukan negara tujuan untuk kuliah S2 saya. Satu negara yang pertama kali muncul di kepala saya adalah Inggris (United Kingdom – UK). Alasan utamanya jelas, karena kuliah disini hanya memakan waktu selama satu tahun, yang mana ini cocok dengan career plan saya kedepannya. Selain itu, sebagai fans Chelsea tentunya bisa kuliah di Inggris makin mendekatkan impian saya untuk nonton bola langsung di Stamford Bridge, hehe.

Tapi perlu saya akui kesulitan saya saat itu adalah menentukan universitas mana yang akan dituju di UK. Awalnya pencarian memang dimulai dari Inggris, tapi kemudian saya coba perluas pencarian saya ke universitas-universitas lain yang masih masuk ke dalam wilayah UK seperti Irlandia Utara, Skotlandia dan Wales. Saya memang cukup perfeksionis, jadi saya benar-benar coba mencari universitas yang cocok dengan latar belakang saya sebagai sarjana hukum. Iya, meskipun background saya hukum dan sempat kerja di sebuah kantor hukum tapi saya ingin melanjutkan kuliah dengan jurusan bisnis. Oleh karena itu saya mencari universitas yang menawarkan modul yang mana saya bisa menerapkan ilmu hukum saya di modul tersebut. Setelah melakukan research, tanya sana dan sini, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 saya di Leeds University Business School (LUBS) dengan program MSc International Business. Alasannya karena selain modul yang ditawarkan menarik, reputasi LUBS ini juga sangat bagus di UK.

Tapi jangan khawatir untuk teman-teman yang saat ini sedang bingung mencari universitas mana yang bagus dan cocok untuk S2 kalian. Hasil research saya dulu sebelum kuliah menyimpulkan kalo universitas di UK itu ya cuma dua pilihannya, antara bagus atau bagus banget. Jadi saran saya jangan terlalu memusingkan diri sendiri dengan pertanyaan “universitas ini sama itu bagusan mana?”. Belajar dari pengalaman saya dulu, karena kelaman mikir, urusan administrasi (e.g. visa) jadi ikutan molor.

Singkat cerita, akhirnya saya mulai kuliah di Leeds pada bulan September 2013. Banyak hal yang menarik perhatian saya selama berkuliah di sini. Yang pertama adalah saya salut bagaimana sikap universitas-universitas di UK dalam mencegah plagiarism. Karya cipta seseorang disini amat sangatlah dihargai. Mereka tidak sungkan-sungkan menindak tegas mahasiswa yang diduga ataupun terbukti melakukan plagiarism atas suatu karya ilmiah, terlebih sebagian besar universitas top di UK sudah menggunakan software bernama Turnitin. Software ini bisa mengecek apakah assignment yang dibuat mahasiswa itu plagiat atau tidak. Jadi setelah mahasiswa submit suatu assignment melalui Turnitin, dan ternyata di Turnitin report-nya tertulis similarities-nya lebih dari 40% (range similarities tergantung kebijakan 12 universitas), maka mahasiswa tersebut akan dipanggil oleh pihak universitas dan disidang untuk mempertanggungjawabkan kerjaannya karena dia diduga melakukan plagiarism. Nggak main-main, ancamannya drop-out. Jadi disini tidak bisa asal copy paste seperti di Indonesia, bisa repot nanti urusan.

Hal menarik lainnya adalah kuliah disini tidak menggunakan sistem GPA (Grade Point Average), atau di Indonesia kita familiar dengan istilah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Untuk master’s degree di UK, universitas mengklasifikasi pencapaian mahasiswa dalam 4 tahap, yaitu fail (<50), pass (50-59), merit (60-69) dan distinction (70+). Range nilai untuk pengklasifikasiannya kadang berbeda antar satu universitas dengan universitas lainnya. Mungkin teman-teman berpikiran, “wah gampang dong dapat distinction cuma perlu dapet 70!??”. Itu yang saya pikirkan dulu, tapi ternyata untuk dapat 70 disini itu ibaratnya dapat 90 di Indonesia hehe. Sulit memang karena standar penilaiannya tinggi sekali, tapi bukan berarti tidak mungkin karena cukup banyak juga kok ternyata yang bisa dapat distinction, jadi tenang saja.

Berdasarkan pengalaman saya, time management juga akan ikut menentukan kesuksesan kuliah kalian di UK. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, kuliah di UK ini (untuk yang master) hanya satu tahun, jadi kebayang kan bagaimana padatnya kuliah di sini. Tapi sebenarnya padat atau tidaknya itu juga tergantung program dari universitasnya sih, tapi satu yang pasti kalian akan disibukkan dengan banyaknya assignment dan/atau tugas bacaan, jadi harus pinter-pinter me-manage waktu kalian. Tapi satu hal juga yang perlu kalian catat (terutama untuk yang berencana kuliah di sini ataupun yang baru memasuki awal perkuliahan), study-life balance guys!! Tubuh kalian bukan robot jadi juga akan perlu yang namanya istirahat/refreshing. Belajar boleh (banget!), tapi jangan lupa bersosialisasi juga, kalian akan (atau sedang) berada di UK, get a life, make the most of it! hehe. Saya juga meskipun jadwal kuliah sangat padat tapi masih sempet kok ikut organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Leeds.

Last but not least, hal-hal di atas ini cuma secuil dari segudang cerita saya kuliah di UK. Masih banyak hal-hal menarik lainnya yang kalau saya ceritakan semua bisa jadi novel nanti. Tapi satu hal yang perlu teman-teman ingat kalau sedang kuliah di luar negeri (di UK atau di mana 13 pun juga). Tolong jaga nama Indonesia di mata dunia. Ingat, secara tidak langsung kalian adalah duta Indonesia di luar negeri. Apa yang teman-teman internasional kalian lihat pada diri kalian adalah apa yang mereka pikirkan dan bayangkan tentang Indonesia. Selain itu, gunakanlah kesempatan kuliah di luar negeri kalian untuk berkontribusi kepada negara Indonesia, salah satu cara yang paling mudah adalah dengan meningkatkan nilai dan nama Indonesia di mata dunia, bisa melalui people to people interaction seperti yang baru saja saya sebutkan, berpartisipasi di event-event internasional dengan membawa nama Indonesia ataupun membuat acara sendiri yang bertema Indonesia.

Saya teringat dengan kata-kata Muhammad Hatta, “hanya ada satu negara yang pantas jadi negaraku (Indonesia), ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”
Selamat berkuliah, kawan!!

Dicky Faizal Aprianto
MSc International Business, Leeds University Business School

sumber : http://ppiuk.org/tantangan-kuliah-di-britania-raya-uk/

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: