Teks dan faham Radikalisme ajaran Islam

Kajian terhadap teks merupakan bagian dari seni memahami pesan, peristiwa serta bagaimana pemahaman manusia terhadap teks tersebut, serta bagaiaan teks dijadikan sebagai kekuatan mobilisasi dalam masyakat. Islam menempatkan pesan ajarannya pada teks-teks Al-Qur’an dan hadist nabi. Dari teks ini lah Islam difahami oleh manusia. Berbeda dengan teks sejarah dan peradaban, ajaran islam yang diyakini sebagai ajaran samawi mempunyai ruang holistic yang mana pesan-pesan yang termuat dalam ajarannya terfokus pada memahami the mind of God. Ajaran agama menurut Gianni Vattimo tidak bisa dilepaskan dari wacana interpretasi. Agama sejak awal munculnya tidak bisa lepas dari dekonsruksi pemahaman terhadap teksnya. Sehingga bias-bias antropologi, sosiologi dan sejarah manusa tidak bisa dilepaskan dari proses memahami teks agama.

Teks ajaran Islam difahami mempunyai dua sisi qod’iyah (pemahaman yang besifat mutlaq )dan dhoniyah (pemahaman teks yang bersifat multi tafsir). Dua pola memahami teks Islam ini mewarnai bagaimana ajaran Islam difahami. Hegemoni serta claim terhadap pandangannya terhadap teks tersebut menjadikan Islam menjadi sebuah ajaran yang borjuis dan beberapa kelompok meyakini pemahamanya terhadap Islam sebagai pemahaman yang final. Pola pemahaman tersebut menjadikan Islam dengan teksnya sebagai ajaran yang eksklusif.

Sejarah akar ideologi eksklusif  dalam Islam bermula dengan munculnya sekte khawarij yang awal munculnya merupakan respon terhadap perbedaan antara sayidina Ali dengan Muawiyah dengan mengusung gagasan la hukma illa lillah mereka melakukan interpretasi terhadap teks teks kitab suci dengan asumsi tidak ada hukum kecuali bersandar pada ketentuan syariah Allah. Khawarij berusaha melakukan doktrinitas dan absolutitas terhadap pemahamannya sebagai interpretasi yang mewakili keinginan Tuhan. Keyakinanan dan pemahamannya dianggap sebagai representasi the mind of God.  Pola gerakan sekte khawarij yang awal kemunculan merupakan sikap politik kemudian masuk dalam lingkaran ideologi keagamaan. Sehingga benih radikalisme tumbuh dengan faham takfir (pengkafiran) terhadap sahabat rasulullah yang tidak sejalan dengan pemahamannya, khawarij merupakan sekte pertaman yang mengunakan legalitas agama untuk menghukumi dan melakukan tindakan kriminal terhadap golongan yang tidak sejalan dengan pemahamannya.

Ronal Dworkin dibukunya Religion Without God mengatakan tidak jarang keberagamaan ketika bersinggungan dengan politik, hukum serta kehidupan masyarakat lebih dominan dengan klaim dan sikap yang tidak jarang justru lebih dominan dari nilai-nilai Tuhan, seperti kasih sayang, memberikan kedamaaian. Keberagamaan dalam beberapa kasus justru menjadi alat mobilisasi massa yang sering menghilangkan nilai-nilai ajaran Tuhan. Ajaran Islam yang bermuara pada teks diasumsikan oleh kalangan radikal sebagai ajaran yang statis dan final. Tatanan ekonomi, politik, ideologi dianggap sudah mapan dan harus selalu diperjuangkan kebenaran finalitasnya, bahkan terkadang tidak perlu adanya rekonstruksi pemahaman umat saat ini, tapi di kembalikan pada generasi awal Islam yang sudah berhasil membangun peradaban dengan semangat syariah islam. Faham radikalisme inggin membawa teks pada sebuah sikap Qiyas syahid ma’a ghoib yaitu mengembalikan konteks  umat Islam pada romantisme sejarah.

Sudut pandang teks islam tidak bisa lepas dari bacaan culture studies yang mana banyak dipengaruhi oleh struktrualisme, poststruktrualisme, dekonstruksi, psikoanalisis. Culture studies melihat berbagai fenomena kebudayaan sebagai tanda sekaligus melakukan pembongkaran terhadap kode dan struktur yang membangunnya serta melihat muatan muatan ideologi dibalik tanda tersebut. Dalam arah yang berbeda, culture studies mencoba membentangkan berbagai relasi kekuasaan, dominasi, hegemoni, ketidakadilan. Culture studies mencari format bagi kemungkinan perlawanan, subversi dan penentangan cultural. Ia mencari berbagai kemungkinan baru pemaknaan dan pembacaan yang dinamis, prospektif dan produksi terhadap ma’na teks.     Gadamer mengembangkan pemahaman terhadap tanda(teks) kedalam kata lenguistik dengan pernyataan ada being yang dapat difahami adalah bahasa, tanda (teks) adalah pertemuan dengan ada  being melalui bahasa. Inti tanda terletak pada alam pikir sehingga tinggi rendahnya nilai sebuah tanda terletak pada alam pikir sang pengarang, sehingga pemahaman terhadap teks bukan wajah seutuhnya dari ajaran. Hal yang fundamental bagi gadamer adalah penolakan terhadap teori “tanda” dalam hakekat bahasa, bagi gadamer bahasa adalah situasi, ekspresi dan modus eksisensi manusia. Bagi gadamer ada 4 komponen yang tidak bisa dilepaskan dari interpretasi tehadap tanda ( teks) yaiu: bildung (pra pemahaman) sensus communal (aspek aspek social, kultaral) test (keseimbangan insting, panca indra dan kebebasan ntelektual) judgment (keputusan dari sang pembaca terhadap tanda (teks).Keterbukaan dengan berbagai pendekatan terhadap keberadaan teks Islam merupakan sebuah kenistaan untuk di hindari. Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin sehinga ajarannya tidak seperti fosil ajaran dengan sikap eksklusif dan radikal. Sehingga Islam sebagai sebuah ajaran tidak hanya menjadi alat mobilisasi kekuasaan, politk tapi kehadiran ajarannya muncul dengan semangat keterbukaan wawasan, serta selalu menjadi bagian dari culture studies dalam setiap kepingan sejarah peradaban kemajuan nilai-nilai kemanusian. [Msh/AJU]

 

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Leave a Reply

%d bloggers like this: