Wawancara Ekslusif: Berjihad Karena Ingin Menghadiahi Ibu Surga

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Radikalisme dan terorisme menjadi sorotan utama para pemerhati perdamaian di dunia. Berbagai seminar dan kampanye perdamaian rutin digalakkan, salah satunya di Tunisia pada Senin (14-15/11). Seminar itu diadakan oleh Family Against Terrorism and Extremism di Gammarth, Tunis.

Institusi tersebut adalah bentuk aksi solidaritas para orang tua yang anak-anaknya menjadi korban perekrutan ISIS atau gerakan radikalisme agama yang laiinya. Mereka berpusat di London. Seminar kali ini adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya seminar dengan tajuk yang sama pernah diadakkan di Prancis pada tahun 2015.

Anggotanya terdiri dari beberapa negara. Baik dari Eropa, Amerika, Afrika dan juga Asia. Nah dari Asia Tenggara yang mewakilinya adalah Indonesia dan Malaysia. Dari Indonesia Yayasan Prasasti Perdamaian yang hadir dalam kesempatan itu. Lalu ada juga dari UIN Sunan Ampel, Surabaya.

PPI Tunisia berhasil mewawancarai tim Prasasti Perdamaian yang diwakili oleh Alijah Dete, Dewirini Anggraeni Subijanto, Naila Fitria. Melalui Ibu Dete kami mencoba menimba pengalaman-pengalaman beliau dalam gerakannya menanggulangi aksi terorisme dan ekstrimisme.

Seperti yang saya ketahui berdasarkan keterangan yang ibu sampaikan kemarin saat pembukaan film ‘Jihad Selfie’ di Wisma Dubes kemarin bahwa tujuan kedatangan ibu bersama tim di sini adalah untuk mensosialisasikan film ‘Jihad Selfie’. Apakah ada agenda lain selain sosialisasi film tersebut?

Jadi kebalik mas sebenernya. Sayang di Tunisia menghadiri International Second Summit. Itu tentang Family Against Terrorism and Extremism. Nah, kebetulan kami di sini dan kami juga ingin mempromosikan film ‘Jihad Selfie’. Jadi kenapa? Karena kita berpikir bahwa film ini sebagai media kampanye kita untuk preventif , mencegah supaya anak-anak muda kita tidak terprovokasi dan terekrut oleh ISIS. Ya kan? Nah terutama di wilayah-wilayah midle east karena Tunisia masuk wilayah midle east kan? Karena kita khawatir banyak mahasiswa kita di wilayah midle east yang sebenarnya sudah direkrut. Pertama, di Kairo kan? Jadi gimana caranya film jihad selfie ini menjadi media kita untuk mencoba membentengi anak-anak muda kita supaya tidak mudah diprovokasi. Nah, jadi itu sebenarnya kita gunakan momen diklat saya kesini.

Nah, tadi Ibu mengatakan dari organisasi Yayasan Prasasti Perdamaian. Bisa dijelaskan secara singkat itu organisasi apa?

Yayasan Prasasti Perdamaian ini adalah yayasan non-profit organization (NGO) yang fokus berkecimpung dalam membangun perdamaian. Tapi isisnya lebih spesifik karena perdamaian kan luas ya. Nah jadi kita spesifik untuk isu terorisme dan ekstrimisme. Jadi kita fokus bekerja dalam bidang itu dengan lebih fokus pada rehabilitasi dan reintegrasi. Jadi kita berusaha memberikan kesempatan kedua untuk orang-orang yang pernah dikategorikan atau mendapat label teroris. Jadi kita memberi ruang pada mereka supaya mereka bisa kembali lagi ke masyarakat dan kemudian supaya mereka tidak kembali melakukan aksi-aksi lagi. Karena kalau tidak dirangkul, mereka kan biasanya -ternyata setelah saya pelajari, orang yang baru lepas dari penjara itu dia mengalami masa transisi dan itu masa rawan. Mentalnya masih labil. Nah rawannya  itu biasanya dia bisa ditarik ke dalam kelompok mana saja, kelompok apa saja.  Nah itu bisa membuat orang tersebut saat bingung sedangkan dia tidak punya pekerjaan, tidak punya teman. Dan pastinya dia tidak mau berteman dengan siapa saja karena dilabeli sebagai teroris, nah itu potensi dia untuk direkrut ke dalam kelompok-kelompok tersebut cukup tinggi. Nah jadi kita mencoba menyiapkan lingkungan dimana orang ini merasa nyaman dan tidak ingin kembali.

Adakah beberapa sampel dari hasil yang ibu tangani?

Jadi kita sebenarnya sudah mendampingi 35 orang mantan teroris dari sejak kita berdiri tahun 2008 ya. Mendampingi dalam arti membantu mereka dalam modal usaha. Kalau di luar modal usaha si banyak yang kita temui. Ketika dia keluar dari penjara, dia kan gak punya pekerjaan. Salah satu opsi yang bisa mereka lakukan adalah bikin usaha sendiri. Nah untuk membuat usaha sendiri kan butuh biaya. Nah itu, mereka datang ke kita meminta dukungan dana ada yang dikasih grant. Dulu awalnya kita kasih grand, bukan pinjaman. Tapi ternyata gitu ya, tanggung jawabnya ya. Dikasih lupa, hehe.  Dia bilang mau bikin bisnis. Duitnya mana, tapi bisnisnya gak jalan. Nah gitu, ahirnya kita ganti strategi. Kita gak mau lagi ngasih gratis tapi kita kasih dia dalam bentuk pinjaman. Jadi kita ikat dia supaya bertanggung jawab.

Berarti nanti ada semacam timbal baliknya ya?

Jadi kita selalu bilang, uangnya pp ini gak banyak karena memang itu kan gaji kita yang dipotong. Jadi sumber dananya dari gaji. Karena mereka tidak mau menerima uang dari negara dan karena mereka gak mau menerima uang dari donor. Jadi dia mau uang kita sendiri. Nah uang kita sendiri dari mana? Ya sudah akhirnya kita sepakat potong gaji.

Alasannya kenapa Bu, mereka gak mau menerima?

Karena mereka tidak mau dikooptasi negara. Dan donor itu kan dianggap kafir.

Oh, berarti pemikiran mereka masih menganggap pemerintah itu bughot masih ada ya?

Oh banyak.

img_1170-3

Nah itu gimana bu, supaya mereka berubah?

Nah kita coba pelan-pelan. Jadi pendampingan kita itu bukan sekedar pendampingan ekonomi ya, karena bukan itu tujuan kita. Pendampingan ekonomi itu hanya sarana, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita merubah cara berpikirnya. Nah itu kita pelan-pelan. Gak bisa itu cepet. Untuk ideolog-ideolog dalam dunia terorisme ini kan ada tiga level. Ada pengikut, ada simpatisan, ada timtek ya: ideolognya. Nah merubah ideolog itu panjang prosesnya. Kalau merubah dua level di bawah ini agak lumayan. Nah itu kita mencoba merubah dia. Kita kasih wacana-wacana baru, kita kasih lingkungan baru, kita kasih temen-temen baru. Pelan-pelan kita coba tarik mereka.

Dan itu bisa dikatakan berhasil atau bagaimana?

Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Itu, dari 35 orang yang kita dampingi, lima orang ternyata kembali ke kelompok garis keras lagi. Tapi yang 30 lainnya masih bertahan.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan mereka kembali lagi, padahal sudah diadakan berbagai usaha seperti pendampingan dll?

Sebenarnya ada banyak faktor. Jadi gini, kelompok ini kan merasa bahwa mereka masih punya banyak tanggung jawab terhadap islam: membela islam dan mengislamkan Indonesia. Jadi mereka merasa masih punya tanggung jawab itu dan juga mimpi untuk mewujudkan itu. Nah mereka juga merasa bahwa mereka adalah bagian dari dunia. Dalam artian apa yang terjadi di dunia islam sana mereka harus membantu, mereka merasa terpanggil. Jadi dari yang lima ini kembali lagi. Baik di tingkat lokal maupun tingkat internasional. Jadi misalnya ada kegiatan-kegiatan terorisme -aksi-aksi yang menggunakan kekerasan- mereka ikut lagi karena mereka merasa terpanggil bahwa ini tanggung jawab dia untuk membela islam. Nah kalu yang di luar adalah tanggung jawab dia sebagai sesama muslim terhadap saudaranya.

Gerakan terorisme di Indonesia begitu masif ya Bu. Apakah tidak ada tindakan dari pemerintah atau aparat sampai ada pesantren besar di Lamongan: Al Islam itu. Mereka mempelajari granat dan berbagai senjata api?

Pemerintah kecolongan ini. Tapi setelah kasus Amrozi cs dihukum mati kayaknya pesantren ini jera ya. Jadi Al Islam sekarang sudah tidak ngajarin lagi tetapi masih ada pesantren-pesantren lain yang mengajarkan. Nah pemerintah kitu itu kan tidak bisa melarang karena ada kebebasan yang merupakan ciri dari demokrasi. Terkadang demokrasi juga salah jalan, hehe. Senjata makan tuan. Nah pemerintah kita merasa, satu: kalau mereka belum terbukti melanggar hukum baik itu hukum pidana, kan gak bisa ditangkep. Meskipun ada tanda-tanda yang mengarah kesitu. Pemerintah menunggu mereka beraksi dulu, karena kalu ditangkep pemerintah dianggap melanggar HAM. Saya juga pernah nanya, “ Pak, FPI itu kan sudah jelas-jelas. Kenapa tidak ditangkep, kenapa tidak dibubarin?”. “Lha terus gimana Bu, belum ada bukti kuat?”. Nah jadi gitu, ada sisi positif tetapi juga ada sisi negatif juga ya. Jadi mereka ahirnya menyalah gunakan kebebasan itu kan.

Kemarin Ibu kan menghadiri seminar terorisme itu ya. Kira-kira bisa dishare kah?

Nah jadi seminar ini digagas oleh Family Against Terrorism and Extremism. Jadi ada sebuah kelompok di London. Nah mereka ini suatu kelompok yang concern  terhadap keluarga yang anak-anaknya ini direkrut oleh ISIS, Jabal Nushro. Pokoknya organisasi-organisasi yang melakukan kekerasan atas nama agama. Nah mereka ini para orang tua yang sudah kehilangan anak-anaknya. Ada yang meninggal dan ada juga yang gak meninggal. Mereka mencoba membangun solidaritas. Ayo kita bergabung bersama-sama dan kita suarakan untuk against terrorism and ekstremism. Sekitar 100-an orang hadir tapi itu belum mencakup seluruh dunia. Karena dari Asia Tenggara saja yang hadir cuman Indonesia dan Malaysia. Jadi ini respresentatif saja. Dari Amerika Utara ada, dari Eropa ada, dari Afrika ada, dari Asia ada. Ini perwakilan sekitar 100 orang. Dan mereka mengajak kita untuk bergabung untuk menyuarakan hal yang sama. Agendanya kemarin itu kita mendengarkan curhatan dan kesedihan para ibu-ibu yang kehilangan anak-anaknya karena korban perekrutan. Ada juga agenda berupa bertukar informasi tentang dialektika: Apa sih yang menyebabkan orang ini terekrut? Harusnya kan kayak gini. Ini kan perdebatan konteks agama, konteks politik. Maka ini harus dishare lah dari beberapa narasumber. Terus juga yang terahir mereka sharing hasil riset mereka . JAdi mereka melakukan riset terhadap perempuan; peran orang tua. Mereka melihat: Kira-kira keluarga punya peran gak sih dalam Konkret Ekstremism and Terrorism?

Ternyata mereka mengadakan riset dan riset mereka menunjukkan bahwa orang tua punya peran yang besar dalam memerangi terrorism and ekstremism yang mana dalam riset saya, saya menumakn hal yang terbalik. Ndak..ndak. Saya menemukan itu juga, tapi ada factor lain juga, ada peran lainnya juga yang dimainkan oleh orang tua. Jadi saya share kemarin bahwa tidak semua orang tua punya rule positif. Karena di Indonesia saya temukan ada rule negative. Rule negatifnya justru orang tua yang menjadikan anaknya supaya menjadi jihadis. Seperti yang saya ceritakan dalam film ‘Jihad Selfie’ itu. Ada Anshori dan Syafi’i. Dia pingin kan anak-anaknya menjadi jihadis? Nah itu yang sempat kita capture kan. Yang tidak dimuat dalam film kami juga ada.

Lalu apa reaksi dari teman-teman saat ibu memaparkan hasil riset tersebut?

Oh iya, benar juga ya. Nah untuk orang tua yang memerankan peran seperti ini kita musti gimana? Kalau dengan orang tua yang punya peran positif, oke. Kan harus mendampingi, merangkul. Nah itu bener. TApi kalua orang tua yang perannya justru negative, kan kita musti gimana menghadpinya? Kan itu jutru susah kan? Kita malah dianggap berlawanan kan dengan tujuan dia. Nah ini saya sendiri sedang berpikir; Gimana caranya menghadapi orang tua-orang tua yang kayak gitu? Strategi apa yang harus kita pakai?

Saat ini Ibu dkk sudah punya gamabaran kah?

Nah ini kita sedang diskusi; gimana caranya ya? Nah samapai saat ini kami baru terpikirkan bahwa salah satu caranya adalah kita melakukan semacam life in gitu. Karena merubah itu gak gampang kan. Harus tinggal bersama. Jadi saya mulai berpikir; strateginya apa pakai ekonomi ya? Saya lagi berpikir begitu. Nanti kita bikin usaha. Cuman itu usahanya, lagi-lagi sebagai pintu masuk. Tapi target kita; bagaimana merubah pikiran para ibu ini? Ini masih cara klasik. Karena saya belum nemu cara yang lain, hehe.

Saya tertarik dengan obrolan ibu kemarin. Ternyata motif orang-orang yang bergabung dalam kelompok radikal itu berbeda-beda. Bisa diceritakan lebih detailnya, Bu?

Motivasi orang-orang yang berangkat jihad itu bermacam-macam. Motivasi membela islam itu sudah pasti. Tapi ternyata ada motivasi ekonomi. Saya ajak diskusi salah satunya. Dia bilang begini : ‘’Mba kan enak. Wong kita dibayar. Coba kalau kita gak gabung ISIS, siapa yang mau kasih makan? Kita dijamin kok. Anak-anak saya dijamin pendidikannya, istri saya pun terjamin kehidupannya (mendapat rumah)”. Terus saya bilang: “Itu berarti  Karena motif duit juga ya? “.

“Iya lah. Kita gak munafik juga”.

Terus ada yang menarik juga ini. Anak-anak muda ini ada faktor ingin membahagiakan orang tuanya (membeli surga). Jadi ada kasus diamana anak-anak yang rela melakukan jihad itu hanya untuk memberikan surga kepada ibunya. Itu yang membuat saya jadi ‘trenyuh’ ya. Itu kayak kasus Wildan dan Solih yang kayak di film. Sama satu lagi kasus. Itu belum ada di film kita. Saya lupa namanya. Dia orang Solo. Motifnya dia ingin memberikan surga kepada Ibunya. Jadi suasana di rumahnya dia itu ‘panas’. Dia sering melihat ayah-ibunya bertengkar. Dan dia melihat ibunya itu sering tertekan karena bapaknya yang lebih dominan. Jadi dia ingin memberikan hadiah yang nilainya tidak bisa didapatkan dengan materi. Nah surga kan mahal. Hadiah surga siapa yang bisa ngasih? Nah dia ingin memberikan hadiah surga kepada ibunya dengan cara jihad itu. Maka jihad lah dia. Ahirnya ia menjadi korban perekrutan.  Kalau yang satu itu awalnya ia berangkat studi ke luar negeri kemudian ia bergabung dengan organisasi kemanusiaan. Namun kemudian di tengah jalan ia bergabung dengan kelompok ISIS. Sebelum dia berjihad -dia kayaknya sudah mempunyai firasat bakal meninggal- dia menelpon ibunya. Dia bilang: “ Tolong ikhlaskan saya karena ini adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan ibu. Saya ingin memberi surga.” Sempat dia menelpon ibunya dan memberikan itu. Makanya kalau kita ketemu ibunya. Ibunya kan cerita sama saya, sampai dia bilang: “ Saya ini gak pantes mendapat surga sebenernya karena saya itu masih kotor.” Saya nanya: “Ibu bangga ndak anaknya jadi jihadis dan bisa ngasih surga?”. Dia jawab: “Saya itu masih ingat ya dia lari-lari sana, tidur sama saya, main-main.” Nah jadi ibu itu tu melihatnya bukan dia sebagai jihadis tapi masa kecil anak ini. Dan itu yang membuat kita sedih juga.

Terus kalau yang Wildan Mukholad itu kan dia juga dari keluarga broken home . Nah dia pingin begitu. Dia ingin membahagiakan ibunya.

Korban perekrutan Di Indonesia itu kan cukup banyak ya Bu. Sekitar 500-an. Apakah ada motif lain atau agenda khusus yang menyebabkan mereka sangat semangta merekrut anak-anak Indonesia?

Saya melihatnya begini. Merekrut orang dengan gratis kan susah. Dan orang-orang yang dipilih ini sebenarnya juga yang dilihat skillfull ya. Bukan orang-orang yang kosong. Mereka orang-orang yang mempunyai kemampuan. Kayak teman saya itu, dia ditawari berkali-kali. Karena teman saya ini sudah pernah latihan militer saat dia sekolah di Pesantren Al Islam.  Nah dia itu kayak snipper juga. Dia itu dicoba ditarik berkali-kali tapi dia menolak terus. Nah kalau saya si melihat begini, mereka itu butuh personel/tentara yang gak perlu dilatih lagi, tetapi siap mati.

Terahir Bu. Apa pesan ibu untuk kami mahasiswa yang di midle east agar tidak menjadi korban perekrutan gerakan-gerakan radikal semacam ISIS itu?

Pertama gini. Belajar yang baik. Dalam artian jangan menelan mentah-mentah informasi-informasi yang berkaitan dengan konflik di Timur-Tengah. Kalian kan di Timur-Tengah ini. Tapi pahami motif konflik-konflik itu apa si sebenernya? Seperti contohnya, kasus Syiria. Dikabarkan tentang perang Sunni-Syiah tapi ternyata bukan seperti itu. Motifnya ekonomi dan politik. Perebutan jalur minyak.

Saya ketemu orang Palestina waktu saya kuliah di Korea datang dua orang Palestina ke kampus saya. Ternyata motifnya bukan perang Yahudi vs HAMAS, tetapi lebih ke morif ekonomi. Jalur juga. Kepentingan-kepentingan Yahudi, kayak gitu. Jadi itu motifnya ekonomi banget, motifnya politik banget. Jadi bukan motif orang-orang Islam yang dibunuh sama orang-orang non-muslim ya. Nah itu tolong dipahami.

Seperti saat saya ke Afghanistan juga. Saat saya di Afghanistan, saya mempelajari. Ternyata motif perang di Afghanistan itu bukan seperti motif perang yang dipahami oleh teman-teman Mujahidin kita di Indonesia. Ternyata motif perangnya lain. Oh iya, benar juga ya. Dan bahkan orang Afghanistannya bilang begini: “ Kami sudah capek perang terus. Negara kami gak pernah damai”. Nah keberadaan kita justru semakin memperpanjang perang ini. Nah itu kan kasian juga mereka. Jadi jangan cuman memandang dari ‘kacamata’ kita tapi kita harus memandang dari ‘kacamata’ orang lain, terutama masyarakat setempat. Jadi sebagai mahasiswa kalian harus berpiki kritis. Jangan hanya melihat suatu perkara dengan ‘kacamata kuda’ namun harus bisa melihatnya dari berbagai sisi. Pelajari lah konflik itu. Ketika anda direkrut kepentinga dia merekrut apa si sebenarnya?. Kita harus kritis. Jangan menelan mentah-mentah karena kalau kita menelan mentah-mentah kita akan menjadi korban. Nah, jadi sebagai mahasiswa kritislah dalam berpikir.

Terima kasih banyak Bu. Semoga bisa bermanfaat dan semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan yang lain.[AJU]

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: