Wawancara Ekslusif PPI Tunisia dengan Alwi Shihab: Isu SARA semakin Berbahaya Bila Dipupuk

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Tubuh NKRI kini sedang diuji dengan wabah perpecahan dan kebencian. Berbagai masalah timbul membakar api perpecahan. Isu SARA yang paling dominan menjadi sumbernya. Alwi Shihab, seorang cendekiawan senior, politisi yang namanya sudah tak asing lagi mencoba mengalirkan hawa sejuk di tengah tugas negaranya ke Tunisia. Beliau diutus oleh Presiden Joko Widodo untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara di Timur-Tengah. Kedatangan beliau ke Tunisia adalah dalam rangka menghadiri sebuah konferensi Internasional dalam bidang ekonomi.

Di tengah kesibukan beliau, PPI Tunisia berhasil mendapatkan kesempatan mewawancarainya pada Rabu (30/11) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia. Dalam wawancara ini beliau banyak membahas masalah kebangsaan, masalah keberagaman kita sebagai bangsa dan juga peran mahasiswa yang ada di Timteng yang nantinya akan berada di garda terdepan dalam mengawal NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimana pandangan bapak terkait isu SARA yang saat ini sedang kuat di tanah air?

Saya kira isu sara ini sangat berbahaya kalau tidak bisa diredam, karena dia bisa berkembang menjadi suatu isu yang merugikan kita semua, karena kita sebagai negara pancasila sudah bertekad untuk menjadi suatu negara yang menjadikan sara itu sebagai sesuatu yang tabu. Karena sebagai negara yang pluralis, kita harus bisa menempatkan diri sebagai bangsa yang menghormati perbedaan-perbedaan. Apakah itu perbedaan agama, perbedaan etnik perbedaan suku dsb.

whatsapp-image-2016-11-30-at-15-11-29-1
Wawancara Ekslusif PPI Tunisia dengan Bapak Alwi Shihab

Itu sudah kita lebur semuanya menjadi suatu bangsa yang satu dengan bahasa yang satu yaitu bangsa Indonesia yang tidak melihat dia suku mana.

Apa yang terjadi di negara timur tengah antara lain kesukuan yang kuat itu menjadikan negara itu tercabik-cabik. Tetangga Tunis ini Libya, suatu contoh yang sangat tepat dianalogikan bagaimana kesukuan itu menjadikan bangsa Libya yang tadinya bersatu, sekarang berbeda pandangan disebabkan karena kekuatan kesukuan. Ini yang founding father kita itu menghindari hal tersebut, karena menyadari bahwa Indonesia ini terbagi beragam suku, beragam agama. Dan kita harus menonjolkan kebangsaan bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia sebelum kita menganggap bahwa diri kita ini adalah suku ini suku itu, agama ini agama itu. Kita bangsa Indonesia yang masing-masing memiliki cirinya yang khas, tetapi kita sebagai bangsa adalah satu. Jadi isu sara ini berbahaya kalau tidak diredam dan tidak dijelaskan kepada masyarakat luas bahwa ini tidak boleh menjadi suatu isu yang bisa mempengaruhi jalan pikiran kita apalagi politisi, apalagi ulama, apalagi tokoh.

Kita tidak bisa membedakan antara suku Batak, suku Jawa, kalau seandainya saya sebagai duta besar di sini seorang Jawa. Apakah saya harus pilih staff saya juga orang Jawa karna ke-Jawa-an?. Tidak,

yang penting itu adalah Indonesia. Jadi isu sara itu berbahaya kalau dipupuk. Ini harus diredam, karena pada saat founding father mendeklarasikan Indonesia, sebelumnya itu sumpah pemuda diteruskan dengan pembentukan NKRI, sara itu sudah menjadi suatu hal yang tidak boleh kita singgung sehingga ada UU-nya di Indonesia soal sara, jadi sangat mengancam. Itu yang generasi muda harus tetap menjaga warisan yang diberikan oleh pendiri republik ini, untuk kita jaga terus. Nah, isu-isu yang berkembang sekarang ini mudah-mudahan sudah bisa diredam dan sudah bisa diatasi sehingga tidak berkembang kemana-mana.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang ada di wilayah Timur Tengah dan Afrika melihat isu-isu yang berkembang di Indonesia, khususnya dalam menyikapi pemberitaan di media sosial yang kerap menjadi tempat perdebatan?

Nah, ini memang pengaruh media sosial yang sekarang banyak sekali orang menyadari bahwa sebenarnya betul ini suatu teknologi yang bagus kalau dimanfaatkan. Tapi pada saat yang sama, ini bisa menciptakan keretakan di antara keluarga besar bangsa bahkan di kalangan tertentu umat islam juga bisa terancam oleh cara-cara provokasi dan fitnah. Kita juga melihat di media sosial seorang tokoh dicaci maki. Kejadian Gus Mus yang kita ikuti bersama sehingga mereka yang merasa bersalah akhirnya datang minta maaf dan banyak orang yang diperlakukan seperti itu, sebagai tokoh yang seharusnya dihormati justru dicaci maki karna adanya media sosial yang bebas untuk berbicara.

Karena itu saya kira pemerintah sekarang memikirkan bagaimana membatasi anjuran kebencian ini untuk bisa dikurangi dengan cara-cara perundangan atau ketentuan ketentuan sehingga tidak seenaknya saja hal ini bisa memprovokasi emosi masyarakat. Apa yang terjadi sebenarnya akhir-akhir ini terhadap Ahok dimulai dengan media sosial yang meng-quote secara keliru apa yang disampaikan sehingga untuk memperbaiki quote itu sudah tidak bisa mengatasi emosi yang sudah meluap dimana-mana.

Sulit membendung disebabkan karena sosial media. Jadi kita harus berhati-hati dan saya kira memang bagus seandainya ketentuan pemerintah sekarang itu untuk mengejar siapa yang dengan sengaja menciptakan hal-hal yang menjadikan kegaduhan di antara masyarakat dan bahkan bisa menciptakan perpecahan.

Dalam kasus kali ini apakah memang sebagian besar masyarakat Indonesia kurang edukasi tentang bagaimana menjaring berita yang masuk, kemudian bagaimana cara pemerintah untuk menanggulangi masalah ini?

Ya, sekarang pemerintah menyadari bahwa hal ini bisa menciptakan kegaduhan. Dan kegaduhan itu bisa mengakibatkan instabilitas. Instabilitas bisa menciptakan suatu keadaan dimana investor itu ragu untuk masuk ke Indonesia jadi dampaknya ada ujungnya yaitu kesejahteraan masyarakat itu terganggu karena tidak adanya investasi atau kurangnya turis. Apa yang terjadi di Mesir kita tidak mau hal itu terjadi di Indonesia. Itu juga dimulai dengan sosial media yang tidak bertanggung jawab.

Baik pak, sebelumnya kami menghimpun berita-berita yang sedang hangat di Indonesia antara lain kurang lebih ada 169 negara asing yang bebas visa masuk ke Indonesia kemudian pihak asing bisa menguasai perusahaan-perusahaan di Indonesia 100%, bagaimana bapak melihat ini semua?

Yaa sebenarnya begini, kalau umpamanya kita melihat Dubai, Dubai itu lebih progresif dari apa yang sekarang di Indonesia. Di Dubai itu, Asing bisa menguasai, bisa membeli apa saja yang dia mau. Kalau di Indonesia belum se-liberal itu. Orang asing boleh membeli rumah tetapi dia ada batasan-batasannya dan tidak sebebas yang kita dapati di Dubai umpamanya. Nah, kalau bebas visa memang, kalau dibandingkan dengan negara lain memang bukan kita yang pertama. Di Malaysia juga bebas visa tentu bukan semua negara, negara-negara yang oleh pemerintah dianggap masih rawan, itu tetap masih belum bebas visa. Nah, di sini banyak pembicaraan bahwa bebas visa mengakibatkan ada bangsa tertentu yang lalu tidak kembali.

Nah, itu jangan disalahkan bangsa yang masuk itu. Disalahkan pejabat kita karena itu semuanya kan ada record nya. Kalau anda masuk suatu negara kan ada record nya. Kalau anda tidak keluar dari record nya kan berarti kan bisa dicari. Dimana-mana begitu. Jadi jangan salahkan pemerintah tetapi salahkan oknum di pemerintah yang bertanggung jawab terhadap itu, imigrasi umpamanya. Dia tahu waktu si A masuk ke Indonesia dia tahu visa nya sampai kapan berakhir. Begitu sudah berakhir dan dia tidak pulang, dia bisa dicari kan yaa. Kadang-kadang dia menghilang kemana. Tapi RT/RW dan sebagainya kalau ada orang asing di suatu daerah kan bisa dilaporkan. Jadi jangan hanya melihat bahwa ini pemerintah menciptakan suasana sehingga orang asing berbondong bondong masuk. Nah, buktinya dari kementrian tenaga kerja kan juga pada waktu yang lalu kan mentri nya sendiri menangkap beberapa orang yang datang tapi tidak mempunyai izin untuk bekerja. Jadi kita harus introspeksi. Jadi imigrasi, kepolisian itu semuanya bertanggung jawab. Kalau sudah over stay yaa sudah. Kenapa kalau orang masuk ke Amerika over stay kemudian bisa diketahui jadi dia bisa di-black list. Kalau sekali dia over stay untuk yang akan datang dia tidak masuk lagi. Yaa jadi sistem kita juga harus diperbaiki jangan hanya melihat dari satu aspek saja.

Kedatangan bapak ke Tunis sebagai Special Envoy for the Middle East and the Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang sebelumnya berkunjung ke Arab Saudi kemudian Yordania pada Februari lalu, sebenarnya apa pesan Presiden untuk negara-negara Timur Tengah dan anggota OKI?

Yaa sebenarnya pesan presiden itu, saya memegang jabatan ini sejak presiden SBY yang oleh pak Jokowi dianggap bahwa kelihatannya posisi ini masih -atau tanggung jawab ini masih- perlu untuk dilanjutkan karena Indonesia menginginkan adanya kerjasama dengan negara-negara timur tengah dan anggota OKI yang perlu berkesinambungan dan juga perlu ditingkatkan. Kita ketahui bahwa tidak semua negara di timur tengah ini mempunyai potensi untuk investasi. Tentu ada beberapa negara yang dianggap perlu untuk saya kunjungi dan saya ajak untuk meningkatkan hubungan ekonomi. Saya tidak ditugaskan oleh presiden untuk hal-hal yang sifatnya hubungan politik, yaa karna itu tugas Menlu dan saya lebih banyak ditugaskan yang sifatnya meningkatkan hubungan ekonomi kecuali kalau ada tugas-tugas khusus dari presiden.

Nah, anda bisa mendengar bahwa saya sering ke Saudi, Emirate, Oman kalau Afrika Utara ini tidak terlalu sering, mungkin Tunis termasuk yang 2-3 kali saya datangi karna di sini juga ada potensi untuk peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih baik dari negara-negara lain. Sebenarnya Mesir ada tetapi keadaan di Mesir kita tahu sendiri bahwa sekarang belum kondusif, Libya juga ada tapi juga belum kondusif.

Nah, sekarang di Tunis ini yang di antara negara-negara Afrika khususnya Afrika Utara ini yang termasuk menjanjikan karna alasan pertamanya adalah banyak persamaan dengan Tunis ini satu hal. Mahasiswa tentu tahu bagaimana pandangan pemahaman islam di Tunis ini sejalan dengan pemahaman islam kita di Indonesia yaitu versi yang moderat. Yang artinya menghargai perbedaan pandangan, tidak memaksakan kehendak kelompok tertentu untuk menjadikan kelompok yang berbeda itu masuk ke dalam kelompok itu. Kita di Indonesia ada Muhammadiyah, ada NU, ada Wasliyah ini yang saya lihat ada kesamaan dengan Indonesia di samping dari itu kita menggalakkan -kalau perlu- lebih banyak lagi mahasiswa yang datang ke Tunis. Kita bersyukur punya Dubes yang aktif di sini. Kita lihat kemajuan, berapa banyak mahasiswa sebelum beliau sampai di sini. Sekarang berlipat ganda. Berapa banyak hubungan-hubungan ekonomi yang tadinya tidak digarap namun berkat beliau sekarang mulai cenderung untuk berkembang. Di sini ada Medco dan juga ada rencana untuk pengembangan Universitas dengan Universitas. Itu semuanya kan tidak terlepas dari usaha KBRI.

Karena KBRI yaa sebagai, tempat atau wakil pemerintah yang mengetahui kedua belah pihak sehingga dia bisa mencari titik temu dari keduanya untuk bisa dikembangkan hubungan kerja sama.

Mengemban amanah ini sejak zaman Pak SBY hingga Pak Jokowi, seberapa antusias kah negara-negara timur tengah untuk investasi ke Indonesia?

Yaa jadi kita harus selalu juga mengingat bahwa timur tengah itu, selama ini melihat Indonesia tidak begitu serius khususnya pada masa Pak Harto. Pada masa Pak Harto kita tahu persis bahwa banyak sekali penitik beratan kepada barat sehingga timur tengah tidak terlalu difikirkan. Begitu masuk masa Gus Dur mulai ada pemikiran di timur tengah, dilanjutkan dengan SBY.

Nah, ada peningkatan-peningkatan. Pak Jokowi ini sewaktu saya diminta untuk melanjutkan, pesannya begini: “Pemerintah kita tidak boleh hanya mengandalkan barat dan timur dalam pengertian China, Jepang. Dan tugas utusan khusus untuk timur tengah untuk melibatkan proyek-proyek yang ada di Indonesia ini juga timur tengah harus mengambil bagian”.

Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab
Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab

Nah, dari itu juga berkat dubes-dubes yang ada di timur tengah juga anjuran presiden sehingga keliatan mulai ada perkembangan. Satu contoh umpamanya dengan Saudi Arabia yang sepuluh tahun ini pembicaraan soal refinery itu tidak selesai-selesai. Hanya pada masa Pak Jokowi ini ada perjanjian yang sudah ditanda tangani dan proyek refinery sudah mulai akan dikerjakan oleh Saudi Arabia. Juga kita lihat dari Qatar ada komitmen 1 miliar dolar untuk proyek infrastruktur yang sekarang sedang dicarikan proyek nya. Qatar juga sudah membuka QNB (Qatar National Bank) di Indonesia. Dubai juga sudah membuka Dubai Islamic Bank kerja sama dengan pihak Indonesia. Iran juga sekarang sudah mulai di bidang power plan. Sudah mulai di Medan dan dia akan terus, baru-baru ini menyatakan bahwa ingin juga menggarap proyek refinery dengan negara-negara. Oman juga ada pemikiran ke arah oil dan gas demikian pula Kuwait.

Nah, itu semuanya harus diimbangi keinginan dari pihak timur tengah dengan kesediaan kita untuk mencari titik temu untuk kita implementasikan.

Jadi Pak Jokowi ini menginginkan timur tengah terlibat dalam proyek-proyek sehingga jangan dianggap bahwa timur tengah ini adalah sesuatu kekuatan finansial ekonomi yang tidak diperhatikan oleh Indonesia sebagaimana masa-masa yang lalu.

Baik pak, pertanyaan terakhir yaitu pesan kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Luar Negeri pada umumnya, khususnya Tunisia serta negara-negara timur tengah dan Afrika, apa yang seharusnya wajib kami persiapkan ketika kembali ke Indonesia?

Itu penting sekali, di Indonesia ada usaha untuk membelokkan pemahaman islam ini ke arah yang tidak selama ini menjadi bagian dari pengertian atau pemahaman kita. Kan kita itu yang direpresentasikan oleh NU dan Muhammadiyah itu sebagai mayoritas ada usaha-usaha untuk apa namanya men-Introduce, memperkenalkan pemahaman pemahaman baru. Saya kira mahasiswa tahu. Nah mahasiswa yang dari timteng ini -apakah dia dari Mesir apakah dia dari Tunis. Kenapa saya tekankan Tunis dan Mesir? karena ini ada persamaan dalam pemahaman keislaman Mesir dan Tunis ini, dan Indonesia yaitu pemahaman keislaman yang moderat tidak memaksakan kehendak dan tidak mendiskreditkan golongan yang lain. Dan saya yakin di Tunis dan di Mesir, semua aliran, semua mazhab diajarkan dan tidak pernah mengkafirkan satu mazhab, tidak pernah mendiskreditkan mazhab lain sampai kepada mazhab syiah juga diajarkan. Artinya apa? itu yang cocok dengan negara kita yang plural. Kita terbuka dan sekarang tuh tidak bisa anda mengatakan anda harus ikut imam syafii anda tidak boleh mengikuti syiah dan sebagainya.

Kita sebagai suatu masyarakat yang terbuka apalagi demokratis. Kita berhak untuk memilih apa yang kita inginkan selama prinsip-prinsip dasar yang sudah kita sepakati tidak kita lewati atau kita tidak mengingkari. Nah jadi mahasiswa yang ada di LN (luar negeri) ini -apalagi dari Tunis- ini diharapkan menjadi pelopor pemahaman islam yang plural, pemahman islam yang moderat. Dan itu kita bersyukur bahwa ada peningkatan pengiriman mahasiswa ke mari. Dan ini harus berlanjut dan ditambah lagi pengiriman mahasiswa ke Tunis.

Jadi pemikiran yang berbeda kita tetap menghormati, jangan kita bilang islam anda itu sesat dan selama mereka itu meyakini prinsip dasar islam (Ushul al-Din): Syahadat, Sholat, Puasa, selama itu dipertahankan, Quran-nya satu, kiblat-nya satu, syahadat-nya sama, lalu pemahaman-pemahaman lain umpama syiah punya imamnya begini itu jangan menjadi sebab untuk kita menyesatkan mereka.

Yaa anda berbeda dari kami tapi kita bersatu di dalam haji kita sama. Nah pemahaman semacam ini dan orientasi semacam ini yang kita harapkan dari Timteng. Jangan justru saat dia pulang ke indonesia menyuburkan perbedaan tapi justru dia harus meredam perbedaan itu khususnya dari Tunis ini, karena di Tunis kan sama sebenarnya sama al azhar yaa. Dan ini yang harus menjadi pelopor dan waktu saya ke Iran pun saya bertemu dengan mahasiswa. Saya juga katakan bahwa kita tahu bahwa syiah itu ada yang ekstrem ada pula yang moderat. Yang ekstrem itu yang memaki sahabat. Itu tidak laku di Indonesia. Tidak ada orang yang mau menerima itu. Anda harus pilih pengajaran syiah yang moderat. Yang moderat itu apa? dia menghormati sahabat nabi apalagi sekarang kan mereka juga mengoreksi pandangan-pandangan yang mendiskreditkan sahabat. Hanya itu saja sebenarnya yang menjadi masalah syiah. Jangan dibesar-besarkan. Itu justru dari Tunis dari Mesir mengajak bekerja sama. Mahasiswa ini kan pemimpin masa depan. Kalau pemimpinnya sudah memprovokasi perbedaan, masyarakat kita itu kasian, nggak tau. Jadi kalau sudah ustadznya bilang begini dia akan ikut. Nah mahasiswa yang di LN ini harus bisa bersatu untuk melestarikan ajaran Islam, pemahaman islam yang sudah turun temurun.

Orang-orang di desa itu kan umpama dilarang mauludan dia bingung, loh kenapa? sudah ikuti apalagi hal itu kan tidak bertentangan dengan prinsip dasar. Orang yang tidak mau mauludan yaa silakan tapi jangan menyatakan dia sesat. Dia berbeda dengan kita tidak berarti kalau dia bukan islam kecuali kalau perbedaan itu fundamental, yaa itu kita bisa tahu.

Kan ada OKI, OKI juga kan sebagai kumpulan negara-negara muslim juga menyatakan -umpamanya- Ahmadiyah tidak diterima nah itu ada dasarnya tapi syiah diterima karna juga ada dasarnya. Jadi ini mahasiswa penting sekali karena kita-kita yang tua ini kan akan digantikan oleh para mahasiswa.

Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro)
Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia. 

Para mahasiswa kalau dia membawa negara kita ini ke arah yang tidak menghormati perbedaan, kita dalam islam sendiri harus pandai-pandai, belum lagi kita menghadapi kelompok lain, sama kristen kenapa kita harus memusuhi kristen? kenapa kita jadi pengikut ISIS yang membunuh orang yang tidak sejalan dengan dia?. Itu bukan islam yang benar. Nah ini yang harus kita kembangkan. Mahasiswa ini harus jeli. Jangan dia hanya cari panggung untuk maki sana, maki sini tetapi mengorbankan kebersamaan kita sebagai bangsa.

Jadi saya datang ini supaya ingat bahwa presiden ini kan memperhatikan timur tengah. Ada konferensi penting di sini. Presiden menghendaki ada pejabat tinggi setingkat mentri yang hadir untuk menunjukkan bahwa presiden itu sama Timteng selalu menginginkan ada kerja sama, jadi saya dating. Saya bisa ketemu Menlu besok ketemu mentri perdagangan. Menghadiri konferensi ini dalam rangka -pesan awal pak Jokowi- agar Timteng selalu dilibatkan dan apa yang bisa ditingkatkan kita tingkatkan. Nah itu tugas negara.(Dafi/AJU)

 

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: