World Tourism Day: Indonesia yang Aman, Ramah, Indah, dan Accesible

Sejak 30 tahun yang lalu, World Tourism Day ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk dirayakan setiap tanggal 27 September. Pariwisata terus berkembang dan menurut PBB terdapat lebih dari 1 miliar turis yang bepergian baik internasional maupun domestik setiap tahunnya. World Tourism Day dapat menjadi pengingat yang baik bagi seluruh negara, terutama Indonesia, untuk menjadikan aspek pariwisata prioritas.

Sektor pariwisata sendiri berada di pasar yang semakin mengglobal dan menantang. Standar baru dari pengembangan pariwisata sedang bergerak ke arah isu-isu kritis baru seperti kualitas, keberlanjutan, inovasi, aksesibilitas, dan ekologi.

Pada, Senin (26/9/16), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswi Indonesia, masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai World Tourism Day. Dua mahasiswi tersebut adalah Uli Amelia Septriani (Double Degree B.BA Jurusan International Hotel & Tourism di Burapha University Thailand) dalam program Youth Forum dan Deni Endriani (S3 Jurusan Anthrophologie & Tourism di Ehess (Ecole des hautes des sciences socialies Prancis) dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

World Tourism Day adalah hari yang sangat bermakna untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengaruh turisme dalam kehidupan. Pada tahun 2016 ini, Thailand ditunjuk menjadi penyelenggara World Tourism Day. Terdapat banyak sekali acara baik seminar, workshop, maupun field trip yang dilaksanakan sejak tanggal 26-29 September 2016,” jelas Uli. “Di sini juga hadir perwakilan dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk mempelajari bagaimana pariwisata Thailand dapat maju dengan pesatnya,” terang mahasiswi yang melanjutkan studinya di Thailand tersebut.

Uli menyatakan bahwa terdapat 3 aspek penting yang harus dikembangkan agar pariwisata Indonesia semakin maju. Pertama, sektor transportasi, Indonesia dapat memperbanyak penerbangan dan connecting flight agar Indonesia semakin dikenal oleh dunia luas. Kedua, keamanan, para turisme harus dijamin kemanannya, terutama solo backpacker. Ketiga, akomodasi kota lain harus lebih ditingkatkan lagi seperti yang sudah ada di Jakarta dan Bali.

“Tidak harus pemerintah yang langsung campur tangan dalam meningkatkan sektor pariwisata, tetapi bisa dimulai dari diri kita dan masyarakat pada umumnya untuk lebih berperan terbuka. Sebagai pelajar Indonesia, kita seharusnya tidak terbatas mempromosikan pariwisata Indonesia tetapi dapat melakukan hal-hal yang dapat membuat pariwisata Indonesia diperhitungkan di mata dunia. Penguasaan bahasa Inggris dan keberanian komunikasi dengan orang asing adalah kunci utama untuk memperkenalkan pariwisata Indonesia yang tidak terbatas dalam pemandangan dan pantai yang indah, tetapi juga penduduknya yang ramah dan open minded. Seperti Thailand, dikenal dengan istilah land of smile,” jelas Uli.

“Kita harus tetap optimis dalam pariwisata Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa pemerintah telah peka terhadap pentingnya sektor pariwisata dalam suatu negara. Program kerja bidang pariwisata Indonesia untuk periode 2011-2020 memiliki orientasi pada destinasi, pemasaran, industri, dan kelembagaan pariwisata. Namun, masih ada satu pilar yang kurang yaitu tourism for all dalam makna aksesibilitas pariwisata untuk seluruh kalangan,”ungkap Deni.

“Kesempatan berpariwisata hendaknya dapat dinikmati oleh semua kalangan baik yang tidak mampu sampai kalangan yang mampu. Sudah saatnya pariwisata dijadikan suatu kebutuhan manusia dan sudah saatnya juga  pemerintah lebih peka terhadap kondisi ini. Dengan pariwisata, kita dapat menghilangakan penat dalam kegiatan sehari-hari, stres, bahkan menemukan ide baru,” jelas Deni. “Dana seharusnya tidak menjadi halangan bagi kebutuhan pariwisata. Seperti di Prancis, bagi kalangan yang kurang mampu, pemerintah menitikberatkan kepedulian bagi kepentingan pariwisata dengan memberikan dana reimburse 60% dari biaya perjalanan dengan maksimal 750 euro dan 4 malam wisata. Indonesia dapat mulai dengan membuat program seperti “Kartu Pintar Wisata”dengan program seperti yang dilakukan Prancis agar pariwisata dapat dinikmati oleh semua pihak,” terang Deni.

Deni menyatakan bahwa aksesibilitas pariwisata juga harus dapat dinikmati oleh kelompok disabilitas. Salah satu fasilitas yang paling mendukung adalah ketersediaan kursi roda otomatis sehingga mereka dapat mandiri. Transportasi juga harus mendukung seperti bus di Prancis, menyediakan jalur khusus bagi kelompok dengan kursi roda.

Baik Uli maupun Deni menyatakan bahwa infrastruktur memang sektor utama yang masih harus dibenahi di Indonesia. Indonesia tidak hanya Bali dan Jakarta, tetapi masih banyak provinsi lain yang memiliki potensi wisata yang tidak kalah bagusnya. Titik berat lainnya adalah kemananan dan aksesibilitas pariwisata yang masih menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Harapan kedua mahasiswi tersebut adalah agar pariwisata di Indonesia semakin maju dengan negara Indonesia yang aman, ramah, indah, dan accesible.

(CA/F)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: