World TV Day: Konten Televisi Bentuk Opini Masyarakat

Pada Senin (21/10/16), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswa Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai World TV Day: Peran dan Konten TV. Dua mahasiswa tersebut adalah Rikza Azriyan (Master of Computer Engineering, Interactive System, and Visualization di Universitat Duisburg-Essen) dalam program Youth Forum dan Muhammad Ainul Yaqin (S1 Computer Science and Multimedia Design di Taiwan Shofu University) dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Televisi adalah suatu media yang memiliki peran yang sangat vital dalam mempengaruhi pemikiran masyarakat. Konten dalam televisi membentuk opini masyarakat, baik itu dalam sisi positif maupun negatif,” ujar Rikza yang sedang menempuh pendidikan di Jerman tersebut.

Menurut Rikza, ada beberapa perbedaan antara konten yang disajikan televisi di Jerman dan Indonesia. “Program televisi di Indonesia menurut saya lebih menarik dengan variasi acara yang disajikan. Hanya saja, proporsi untuk sinetron atau drama terlalu mendominasi. Di Jerman, program televisi meyajikan fakta-fakta yang cenderung monoton, walaupun dalam sisi positif lebih reliabel,” terang mahasiswa yang juga penggagas terbentuknya PPI TV tersebut.

“Televisi adalah media nomor satu dalam menyampaikan berita. Di Indonesia, tayangan televisi sudah lebih baik saat ini karena semua siaran harus melewati saringan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)  terlebih dahulu. Dalam sisi yang lebih positif, televisi Indonesia sudah cukup berkembang untuk segi edukasi. Hanya saja belakangan, televisi terlalu berlebihan diaplikasikan sebagai media promosi  frekuensi milik bersama tetapi kepentingan pribadi,” jelas Ainul yang juga mahasiswa tingkat 4 di Taiwan tersebut.

“Di Taiwan, tersedia siaran televisi yang dapat digunakan sebagai wadah untuk pengembangan kreativitas pemuda. Bahkan terdapat beberapa siaran yang dikhususkan untuk meliput kegiatan siswa atau mahasiswa untuk menginspirasi yang lain,” ungkap Ainul dalam program KAmi Yang Muda.

“Perlu ditinjau kembali ketepatan konten siaran segmentasi pasar televisi berdasarkan usia atau kategori siaran. Sistem pertelevisian Indonesia harus lebih tanggap agar tidak terlalu bergantung pada rating,” jelas kedua mahasiwa tersebut.

Baik Rikza dan Ainul menyatakan bahwa program televisi yang paling baik adalah televisi yang menyajikan kombinasi yang seimbang antara fakta dan hiburan. Hendaknya, program menyajikan berita atau acara secara netral, tanpa ada intervensi dari pihak manapun ataupun tujuan terselubung membentuk opini masyarakat mengenai sesuatu hal.

(CA/F )

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: